Perempuan Dalam Islam

Juli 7, 2009 pukul 11:03 pm | Ditulis dalam Mutiara, R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Tips, Triks dan Intriks | Tinggalkan komentar

Rasulullah sas. dan para sahabatnya yang hampir semuanya memiliki lebih dari satu isteri aan dianggap kriminal oleh dalam perundang-undangan modern …

Hukum Islam yang membenarkan menerima perceraian juga dikecam dengan keras seperti poligami …

Izin yang diberikan Syariat kepada laki-laki untuk menceraikan isteri secara diam-diam ditetapkan sebagai bukti inferioritas status perempuan dalam hukum Islam. Hijab atau pemisahan yang ketat antara dua jenis kelamin mendapatkan hantaman yang tidak kurang beratnya dari para modernis kita yang terdidik yang menuntut penghapusan jilbab …

Dalam peradaban modern, seorang perempuan hanya dihargai sebatas kemampuan mereka menjalankan fungsi laki-laki, dan pada saat yang sama memperlihatkan kecantikan dan keanggunan secara maksimal kepada publik.

Walhasil, peran kedua jenis dalam masyarakat modern sangat membingungkan. Ajaran Islam tidak bisa mentolerir nilai budaya yang menyeleweng seperti itu. Dalam Islam, peran wanita bukan sebagai ballot-box melainkan sebagai pemelihara rumah dan keluarga.

Maryam Jameela, Islam and the Muslim Women To day

Iklan

Orang yang Bijaksana itu…

Juni 30, 2009 pukul 10:38 pm | Ditulis dalam M Y F R I E N D S W O R D, Mutiara, Tahukan Anda ..., Triks dan Intriks | 1 Komentar

Orang yang bijaksana adalah orang yang mencintai dan menghormati tuhan.

orang yang benar-benar bijaksana adalah orang yang memperoleh hikmah dari kecelakaan yang menimpa orang lain.

Orang bijaksana itu berfikir sekali sebelum bicara dua kali,dan mengucakpkan sepatah kata sudah cukup; makin bijaksana seseorang makin pandailah dia menjaga mulutnya, dan kebijaksanaan itu lebih baik dari kekuatan.

Apabila orang bertindak bijaksana, tiada seorang pun yang melihatnya, tetapi apabila berlaku tidak bijaksana, semua orang mengetahuinya.

Orang yang bijaksana adalah orang yang menonjolkan sifat sederhana dan bersikap diam.

Orang yang mempelajari undang-undang kebijaksanaan tanpa diterapkan ke dalam kehidupannya sendiri, sama halnya dengan seorang petani yang tidak menaburkan benih di ladangnya.

Dan ilmu kedoktoran menyembuhkan penyakit badaniah, sedangkan kearifbijaksanaan membebaskan  jiwa daripada hawa nafsu.

From my friend,

Shania Opal (shania18@gmail.com)

Hadits 2 dari 24 Hadits Arba’in, bag.3

Maret 24, 2009 pukul 11:32 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“… Lelaki itu kembali bertanya, “Beritahulah aku apa itu iman?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat Nya, kepada Kitab-kitab Nya, kepada Utusan-utusan Nya, kepada Hari Akhir, dan kepada ketetapan Nya, baik ketetapan yang baik, maupun ketetapan yang buruk”. Lelaki itu berkata: “Engkau benar” … “

Pertanyaan kedua yang diajukan oleh malaikan Jibril yang menyaru sebagai manusia. Pertanyaan tersebut mengenai iman.

Rasulullah menjawab: “Keimanan itu ada pada seseorang ketika dia beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, utusan-utusan Nya, hari Akhir serta beriman kepada ketetapan yang baik, maupun ketetapan yang buruk”.

Beriman kepada Allah itu mengandung konsekwensi bahwa kita hanya menghambakan diri kepada Nya, memakai aturan-aturan Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau belum melakukan yang demikian itu, maka kita belum beriman, atau iman kita masih kelas teri.

Hadits 2 dari 42 Hadits Arba’in, bag.1

Maret 23, 2009 pukul 10:42 am | Ditulis dalam Iseng, R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“Tatkala kami duduk di sekeliling Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang tidak kami kenal. Laki-laki tersebut mengenakan pakaian berwarna putih cemerlang; rambut laki-laki tersebut juga hitam gelap. Tidak tampak adanya bekas perjalanan jauh dari orang tersebut. Dia mendekat kepada Rasulullah, kemudian menempelkan kedua lututnya kepada kedua lutut Rasulullah, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Rasulullah….” (bersambung)

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Umar bin Al-Khaththab.

Potongan hadits ini menjelaskan salah satu cara wahyu itu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Jibril datang kepada beliau dengan menyerupai manusia yang amat sangat tampan.

Jibril juga mengajari adab seorang murid kepada gurunya, yaitu berusaha mendekat, mencari celah untuk dimasuki agar dapat duduk dekat dengan gurunya. Bukan malah menjauh. Hal ini dikuatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika melihat tiga orang yang datang terlambat menghadiri majlis ilmu beliau. Orang pertama mendekat, orang kedua memilih duduk di belakang, sedangkan orang ketiga malah ngeloyor pergi.

Orang yang duduk mendekat oleh Rasulullah disabdakan bahwa Allah pun mendekat kepadanya, sehingga ilmu itu mudah masuk kepadanya.

Orang yang memilih duduk di belakang oleh Rasulullah disabdakan bahwa Allah pun malu kepadanya, sehingga ilmu itu pun sulit masuk kepadanya.

Orang yang ngeloyor pergi itu oleh Rasulullah disabdakan bahwa Allah pun berpaling darinya, sehingga dia tidak mendapatkan ilmu, dan rahmat Allah Ta’ala.

Nah, habis tahu yang kayak gini nih.. besok lagi kalo hadir di majlis pengajian, pengajian apa saja, yang penting bukan pengajian sesat, buruan pilih tempat yang paling dekat dengan sang guru. Jangan alasan ‘lha wong aku telat te, mosok nyelonong maju’; supaya paham apa yang sang guru sampaikan sehingga ilmu itu masuk….

Orang Beriman bag.2

Maret 9, 2009 pukul 10:31 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Segala sikapnya menghasilkan pahala Nggak percaya… ?! Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda:

“Sungguh mengherankan segala urusan yang berkaitan dengan seorang mukmin, karena setiap urusan yang berkaitan dengannya itu selalu bernilai kebaikan, sedangkan hal ini tidak akan terjadi pada diri orang yang tidak beriman; yaitu apabila dia mendapatkan kelonggaran/kesenangan dan bersyukur, maka hal tersebut dihitung sebagai kebaikan; dan apabila dia mendapatkan kesusahan dan bersabar, maka hal tersebut juga dihitung sebagai kebaikan”

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Nah, jadi orang mukmin itu enak kan. Dapat rizki lalu bersyukur, dihitung pahala; kena musibah walaupun hanya kecocok paku lalu bersabar, dihitung sebagai pahala. Lha kalau dapat rizki tetapi tidak bersyukur, atau terkena musibah tetapi tidak bersabar?

Ya… itu namanya belum dikatakan sebagai orang mukmin dong… Karena orang mukmin itu paling tidak sudah tahu (=mempelajari) Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui; sehingga nggak ada ceritanya seorang mukmin bikin-bikin peraturan: yang poligami dipenjara sekian bulan plus membayar uang! Bukankah poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah apalagi wajib dikerjakan. Nikah itu wajib bagi yang mampu, tapi poligami itu mubah (bolah-boleh saja). Walaupun boleh, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berpoligami. Apa itu? Kesiapan dirinya dan keluarga untuk menerima poligami, ini satu. Kedua, mempersiapkan diri untuk dapat berlaku adil semampunya. Kok semampunya?! Iya, semampunya, karena yang dapat berbuat adil seadil-adilnya itu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri merasa dirinya pun kurang berbuat adil di dalam masalah kecondongan hati, sampai beliau ketika membagi giliran kepada para Ummul Mukminin, isteri-isteri beliau; beliau berdoa (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa`i dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang konon didla’ifkan oleh Al-Albani):

“Adalah Rasulullah itu membagi giliran hari kepada para isteri beliau dan beliau berbuat adil, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Inilah pembagian yang kulakukan semampuku, maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau mampu lakukan sedangkan hal tersebut tidak dapat aku lakukan”

Para ulama sepakat: bahwa keadilan yang dituntut di dalam masalah poligami ialah keadilan di dalam masalah materi; hal ini wajib diusahakan oleh sang suami sebagai konsekwensi poligaminya; sedangkan keadilan hati itu diusahakan semampunya agar tidak condong hanya kepada salah seorang isterinya. Hukum kebolehan berpoligami itu kekal hingga hari Kiamat; tidak dapat diubah-ubah seenaknya sendiri. Yang dipermasalahkan sekarang ialah para pelaku poligaminya, berlaku adil nggak mereka kepada para isterinya?!

Kalau nggak bisa berlaku adil kenapa mesti berpoligami…. Sekali lagi, poligami tidak menjadi haram dilakukan hanya karena para pelakunya tidak bisa berbuat adil! Hukum poligami itu tetap boleh, akan tetapi para pelaku poligami itulah yang perlu ditatar ulang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga mereka mengetahui konsekwensi poligami. Kalau boleh diumpamakan: hal ini sebagaimana menyetir mobil ato sepeda motor. Menyetir mobil ato sepeda motorkan harus punya SIM. Nah…kalau ternyata kebanyakan pengendara mobil/sepeda motor itu tidak punya SIM, apa terus mobil/sepeda motor dilarang untuk dikendarai sama sekali?! Kan nggak tho… Yang dilarang kan Cuma yang nggak punya SIM, yang punya ya monggo terus. Kok nggak nyambung dengan subjudulnya? Ya nggak papa deh, sekali-kali nggak nyambung, hitung-hitung variasi githu… he3x .

Segala sikapnya menghasilkan pahala Nggak percaya… ?! Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda: “Sungguh mengherankan segala urusan yang berkaitan dengan seorang mukmin, karena setiap urusan yang berkaitan dengannya itu selalu bernilai kebaikan, sedangkan hal ini tidak akan terjadi pada diri orang yang tidak beriman; yaitu apabila dia mendapatkan kelonggaran/kesenangan dan bersyukur, maka hal tersebut dihitung sebagai kebaikan; dan apabila dia mendapatkan kesusahan dan bersabar, maka hal tersebut juga dihitung sebagai kebaikan” Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Nah, jadi orang mukmin itu enak kan. Dapat rizki lalu bersyukur, dihitung pahala; kena musibah walaupun hanya kecocok paku lalu bersabar, dihitung sebagai pahala. Lha kalau dapat rizki tetapi tidak bersyukur, atau terkena musibah tetapi tidak bersabar? Ya… itu namanya belum dikatakan sebagai orang mukmin dong… Karena orang mukmin itu paling tidak sudah tahu (=mempelajari) Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui; sehingga nggak ada ceritanya seorang mukmin bikin-bikin peraturan: yang poligami dipenjara sekian bulan plus membayar uang! Bukankah poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah apalagi wajib dikerjakan. Nikah itu wajib bagi yang mampu, tapi poligami itu mubah (bolah-boleh saja). Walaupun boleh, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berpoligami. Apa itu? Kesiapan dirinya dan keluarga untuk menerima poligami, ini satu. Kedua, mempersiapkan diri untuk dapat berlaku adil semampunya. Kok semampunya?! Iya, semampunya, karena yang dapat berbuat adil seadil-adilnya itu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri merasa dirinya pun kurang berbuat adil di dalam masalah kecondongan hati, sampai beliau ketika membagi giliran kepada para Ummul Mukminin, isteri-isteri beliau; beliau berdoa (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa`i dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang konon didla’ifkan oleh Al-Albani): “Adalah Rasulullah itu membagi giliran hari kepada para isteri beliau dan beliau berbuat adil, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Inilah pembagian yang kulakukan semampuku, maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau mampu lakukan sedangkan hal tersebut tidak dapat aku lakukan” Para ulama sepakat: bahwa keadilan yang dituntut di dalam masalah poligami ialah keadilan di dalam masalah materi; hal ini wajib diusahakan oleh sang suami sebagai konsekwensi poligaminya; sedangkan keadilan hati itu diusahakan semampunya agar tidak condong hanya kepada salah seorang isterinya. Hukum kebolehan berpoligami itu kekal hingga hari Kiamat; tidak dapat diubah-ubah seenaknya sendiri. Yang dipermasalahkan sekarang ialah para pelaku poligaminya, berlaku adil nggak mereka kepada para isterinya?! Kalau nggak bisa berlaku adil kenapa mesti berpoligami…. Sekali lagi, poligami tidak menjadi haram dilakukan hanya karena para pelakunya tidak bisa berbuat adil! Hukum poligami itu tetap boleh, akan tetapi para pelaku poligami itulah yang perlu ditatar ulang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga mereka mengetahui konsekwensi poligami. Kalau boleh diumpamakan: hal ini sebagaimana menyetir mobil ato sepeda motor. Menyetir mobil ato sepeda motorkan harus punya SIM. Nah…kalau ternyata kebanyakan pengendara mobil/sepeda motor itu tidak punya SIM, apa terus mobil/sepeda motor dilarang untuk dikendarai sama sekali?! Kan nggak tho… Yang dilarang kan Cuma yang nggak punya SIM, yang punya ya monggo terus. Kok nggak nyambung dengan subjudulnya? Ya nggak papa deh, sekali-kali nggak nyambung, hitung-hitung variasi githu… he3x .

Orang Beriman itu Bag.1

Maret 9, 2009 pukul 10:20 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Segala perbuatannya bermanfaat

Manfaat di sini ialah manfaat yang akan didapatkan di dunia dan akherat; karena seorang mukmin seharusnya menjadikan misi dan visinya untuk meraih kebahagiaannya di akherat. Bagaimana dengan kebahagiaan dunia? Kebahagiaan dunia akan didapat secara otomatis ketika yang dituju itu kebahagiaan akherat. Hal ini sudah diisyaratkan oleh Allah dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Allah berfirman di dalam surat Asy-Syura (42): 20

Barang siapa yang menghendaki tanaman Akherat, niscaya Kami (Allah) tambahi pada tanamannya, dan barangsiapa yang menghendaki tanaman dunia, niscaya Kami (Allah) akan memberikannya (apa yang dia minta), sedangkan di Akherat kelak dia tidak memiliki bagian sama sekali

Ayat ini membicarakan tentang orang yang beramal untuk Akherat dan yang beramal untuk dunia. Orang yang beramal untuk Akherat akan mendapatkan bantuan dari Allah dalam memperbanyak amalan untuk akheratnya, termasuk penghidupan dunianya. Sebaliknya, ketika seseorang beramal untuk dunianya saja, tanpa memperdulikan Akherat, maka Allah tidak akan memberikan ganjaran terhadap amalannya tersebtu di Akherat kelak, sedangkan di dunianya pun dia belum tentu mendapatkan apa yang dia inginkan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir; Surat Asy-Syura (42): 20.

Diriwayatkan di dalam Sunan At-Turmudzi dan Sunan Ibnu Majah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua matanya, serta hanya diberi dari kehidupan dunia ini yang menjadi bagiannya; sedangkan barangsiapa yang menjadikan Akherat sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan segala urusannya terpenuhi, menjadikan rasa berkecukupan di dalam hatinya, serta dunia itu dijadikan mendatanginya, padahal dunia itu merupakan hal yang remeh

Nah, yang segala amalannya untuk kehidupan Akherat, dunia pasti didapatkannya, sedangkan yang segala amalannya untuk dunia, dunianya belum tentu didapat; akheratnya sudah dipastikan lepas.

Seorang mukmin yang bijaksana tentu akan memprioritaskan Akheratnya, karena rizki dunia itu sudah ditentukan oleh Allah ketika manusia masih berada di dalam rahim ibunda. Selagi manusia itu masih bisa bernafas, maka dipastikan bagian rizkinya di dunia ini masih ada, akan tetapi, ketika bagian rizki seseorang yang ditetapkan itu sudah habis, maka hal itu bertanda waktu hidup orang tersebut sudah habis, alias dia harus mati.

Jadi, jangan pernah khawatir kehabisan bagian dunia; sebab bagian dunia seseorang yang sudah ditetapkan itu tidak akan lari kepada orang lain. Misalnya: Kalau ketetapan saya bulan ini dapat uang satu juta dari bung Shodiq, tanpa harus sering memberi posting untuk tulisan bung Shodiq, pasti saya akan mendapatkan uang tersebut (mohon maaf beribu maaf ya bung Shodiq, ini cuma contoh lho…he3x); tetapi sebaliknya, jika hadiah tersebut bukan ketetapan rizki saya, walaupun pada setiap postingan di blognya bung Shodiq diberi komentar (tidak hanya satu komentar, mungkin minimal 3-4 komentar pada setiap postingan), pasti uang satu juta bulan ini tidak akan sampai kepada saya (betul nggak..J).

So, beramal untuk akherat yuk……..

Jangan Meniru Kepribadian Orang Lain

Januari 18, 2009 pukul 12:03 am | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tips, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Setiap orang memiliki bakat, kemampuan, ketrampilan, dan kecenderungan tersendiri. Salah satu aspek karakter Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah kemampuannya untuk memimpin. Beliau menempatkan para sahabatnya di tempat masing-masing sesuai dengan bakat dan keahiannya. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang adil dan bijaksana, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuknya sebagai hakim. Rasulullah memakai Muadz bin Jabal karena pengetahuannya; Ubay karena kemampuannya dalam memahami Al-Qur’an; Zaid karena penguasaannya dalam bidang waris; Khalid karena keahliannya dalam berjihad; Hasan karena kemampuannya dalam sastra; dan Qais bin Tsabit karena kemampuannya berpidato (Semoga Allah meridlai mereka semua).

Melebur ke dalam kepribadian orang lain, dengan alasan apapun, sama dengan bunuh diri. Dan meniru karakter alami orang lain sama dengan mengantarkan kematian pada diri sendiri. Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus orang kagumi ialah berbedanya karateristik setiap orang -seperti halnya bakat, bermacam-macam bahasa yang mereka pakai, dan berbagai warna kulit mereka. Abu Bakar radliyallahu anhu, misalnya, dengan kelembutannya, memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap Islam dan Ummat ini. Umar radliyallahu anhu di sisi lain membela Islam dan para penganutnya untuk mendapatkan kejayaan dengan watak keras dan pemberani. Oleh karena itu, hendaklah anda merasa senang dengan bakat dan kemampuan anda. Kembangkanlah dia, dan ambillah manfaat darinya.

Disunting dari:

Don’t be Sad

Bahwa Kontrol Atas Pemikiran

Januari 16, 2009 pukul 10:10 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ... | Tinggalkan komentar

seseorang sangatlah penting di dalam semua bidang kehidupan. Sayang sekali, kalau orang sudah mempunyai suatu rangkaian pendapat, saran atau gagasan apa saja yang berlawanan dengan pendapat itu mungkin tidak akan diperdulikan.

Sebagai contoh, seseorang tidak suka bepergian dengan pesawat terbang karena rasa takut. Sebuah pesawat terbang jatuh dan hal itu memperkuat ketakutannya. “Tepat seperti yang kukatakan”, dia berkata. “Tidak aman bepergian dengan pesawat terbang.”

Akan tetapi, dia sama sekali melupakan beribu-ribu pesawat terbang yang lepas landas dan mendarat dengan selamat setiap jam setiap hari. Juga mereka luput memperhatikan kecelakaan kereta api dan mobil yang sering terjadi. Orang ini dikatagorikan sebagai kelompok yang hanya mengingat-ingat segala aspek negatif di dalam hidupnya.

Disunting dari:

Anda adalah Apa yang Anda Pikirkan

SEHAT DENGAN PUASA

Januari 15, 2009 pukul 11:25 pm | Ditulis dalam Tahukan Anda ..., Tips, Triks dan Intriks | Tinggalkan komentar

Terapi puasa untuk pengobatan dan kesehatan ditinjau dari ilmu kesehatan sudah terbukti banyak manfaatnya. Puasa tidak hanya bermanfaat dari segi kesehatan fisik tetapi juga dari segi kejiwaan dan agama. Puasa biasa dilakukanoleh kalangan umat beragama. Cara pengobatan puasa telah berkembang pesat di dunia. Bahkan di Osaka dan Kyoto, Jepang ada sanatorium puasa sebagai tempat untuk pengobatan dan kesehatan. Terapi ini juga telah diteliti secara ilmiah oleh para ilmuwan dari Amerika, Inggris, Perancis, dll.

Tubh manusia dibekali dengan kemampuan terapi alamiah. Dengan demikian orang yang berpuasa tidak perlu khawatir akan menjadi sakit, karena tubuh mempunyai mekanisme alamiah untuk bertahan. Dengan terhimpunnya 600 miliar sel dapat membuat orang bertahan hidup selama berpuasa, dan membuat daya tahan tubuh seseorang semakin tangguh.

Berikut ini Prof. Hembing memberikan beberapa hikmah puasa untuk memberikan aspek perlindungan, pencegahan dan pengobatan agar tubuh tetap sehat selama menjalankan ibadah puasa.

  1. Memberi kesempatan pada alat pencernaan untuk istirahat

Pada saat tidak berpuasa, alat pencernaan di tubuh bekerja keras mengolah makanan yang masuk. Makanan diolah membutuhkan waktu proses sekitar kurang lebih 8 jam, yaitu 4 jam di lambung dan 4 jam di usus kecil. Jika sahur atau makanan masuk sekitar jam 04 pagi, maka perncernaan dapat beristirahat selama kurang lebih 6 jam, yaitu mulai dari jam 12 siang sampai saat berbuka puasa, sekitar jam 18.00.

  1. Membersihkan racun, kotoran, dan ampas yang ada dalam tubuh

Dengan berpuasa berarti makanan yang masuk dibatasi, sehingga penumpukan racun, kotoran dan sampah dalam tubuh dapat dicegah, sehingga tubuh menjadi bersih dari racun, kotoran dan ampas.

  1. Menjadikan kulit lebih sehat dan berseri

Ketika berpuasa, cadangan energi yang tersimpan dikeluarkan sehingga melegakan pernafasan organ-organ tubuh beserta sel-sel penyimpannya. Hal ini disebut peremajaan sel. Orang yang seing berpuasa kulitnya menjadi lebih segar dan lembut.

  1. Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh

Zat kimia dalam tubuh manusia 80 % bersifat alkali dan 20 % bersifat asam. Dengan melakukan puasa dapat mengurangi zat-zat dalam darah yang bersifat asam dan menjaga sifat alkali tetap lemah agar tercapai keseimbangan di antara keduanya.

  1. Peremajaan sel-sel tubuh

Oragan tubuh terdiri dari jaringan-jaringan yang merupakan kumpulan sel-sel sejenis. Ketika tubuh menjalankan puasa, organ-organ tubuh berada pada posisi rileks, sehingga sel-sel tersebut memiliki kesempatan untuk memperbarui diri. Sel-sel baru terbentuk di lapisan dalam yang sudah tuda untuk keluar. Sel-sel yang sudah tua ini segera mati pada saat mencapai permukaan dan kemudian mengelupas.

  1. Menghentikan makanan untuk bakteri, virus dan sel kanker

Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang hidup, termasuk menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan masuknya makanan dan minuman, kuman penyakit, bakteri, virus, dan sel-sel kanker tidak dapat bertahan hidup. Mereka keluar melalui cairan tubuh bersama-sama dengan sel-sel yang telah mati.

  1. menambah jumlah sel darah putih dan meningkatkan daya tahan tubuh

dengan penambahan sel darah putih otomatis dapat meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh, karena sel darah putih memang berfungsi melawan segala macam bentuk radang dalam tubuh. Menurut hasil penelitian di Universitas Osaka, Jepang, pada tahun 1930, jumlah sel darah putih akan bertambah pada orang yang berpuasa.

  1. meningkatkan fungsi organ tubuh

puasa berarti memberikan kesempatan beistirahat selama kurang lebih 14 jam terhadap organ tubuh, seperti lambung, ginjal, liver, dan organ lainnya. Dengan berpuasa organ tubuh mengalami masa istirahat yang terpelihara, daya tahan tubuh dan taraf kesehatan menjadi prima dan kuat. Gerak serta mekanisme tubuh mendapat kesempatan untuk rileks sekaligus memberi kesempatan pada sel-sel dan jaringan tubuh untuk memperbaharui diri setelah sekian lama bekerja tanpa henti.

  1. untuk lebih meningkatkan kesehatan, ikutilah pola makan berikut ini setelah anda menjalani puasa:

usahakan setelah menjalani puasa selalumemakan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dll.

Untuk penderita penyakit tertentu, dianjurkan tetap mematuhi larangan makanan-makanan yang dipantangkan, dan mengutamakan makanan yang lunahk.

PS:

Makanan yang dimakan diutamakan yang lunak agar memudahkan pencernaan.

Membiasakan makan dan minum tidak berlebihan.

Setelah berpuasa, hindarilah merokok, alkohol dan makanan berlemak.

Beristirahatlah yang cukup.

Ambil Secukupnya

Januari 14, 2009 pukul 11:27 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Ambillah sesuatu yang hanya anda butuhkan di dunia ini, karena hal itu merupakan nikmat awal yang Allah anugerahkan kepada sebagian orang di kalangan hamba-hamba Nya. Continue Reading Ambil Secukupnya…

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.