Renungan dari Surat Yusuf : 47-49

Februari 10, 2012 pukul 10:28 pm | Ditulis dalam Inspirasi, R E N U N G A N | 1 Komentar

Ayat di atas merupakan cerita tentang takwil mimpi penguasa Mesir yang dilakukan oleh Nabi Yusuf alaihissalam.

Sang Raja bermimpi melihat 7 ekor sapi kurus memakan 7 sapi yang gemuk. Mimpi yang membingungkan ini disayembarakan bahwa siapa saja yang bisa menakwilkan mimpi ini, maka dia akan diberi imbalan yang besar; akan tetapi, tidak seorang pun yang bisa menakwilkan mimpi tersebut walaupun dari kalangan cerdik pandai di masanya.

Di tengah kegalauan raja atas mimpinya ini, seorang pembantunya yang pernah dihukum penjara teringat Nabi Yusuf yang telah menakwilkan mimpinya secara tepat. Pembantu ini pun memberitahu raja apa yang pernah dia alami ketika bersama Nabi Yusuf. Raja pun mengutusnya ke penjara untuk menemui Nabi Yusuf dan bertanya tentang makna mimpi ini.

Nabi Yusuf pun berkata:

Continue Reading Renungan dari Surat Yusuf : 47-49…

Betapa Dholimnya Kita…

Februari 7, 2012 pukul 12:10 pm | Ditulis dalam Cerita, Inspirasi, R E N U N G A N | Tinggalkan komentar

Suatu sore, seorang teman datang dan bertanya: eh Muf… sahabat Ibnu Ummi Maktum kok dinisbatkan kepada ibunya? Kenapa bukan kepada bapaknya?

Jujur saja, aku tertegun dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang tidak pernah terbersit di benakku. Saat itu, aku cuma bisa menjawab: Nama Asli beliau adalah Abdulloh, tapi kenapa dinisbatkan kepada ibunya saya kurang tahu… coba nanti saya cari dulu.

Pencarian pun dimulai… kenapa harus dicari? Kebiasaan orang Arab pada waktu itu, memanggil seorang anak yang tidak diketahui ayahnya dengan “Ibnu Abihi“. Kalau dinisbatkan kepada Ibunya? Ini yang perlu dicari tahu..

Berpedoman dari dua kitab: Tahdzibut Tahdzib karya Ibnu Hajar Al-Asqolani dan Usdul Ghobah fi Ma’rifatish Shohabah karya Ibnul Atsir, akhirnya saya dapatkan biografi beliau:

Nama beliau (yang disepakati oleh mayoritas ulama) adalah Amr bin Qois bin Zaidah bin Al-Ashom Jundub bin Haram bin Rawahah bin Hujr bin Abd bin Mu’ish bin Amir bin Luaiy Al-Amiri.

Beliau adalah saudara sepupu Khodijah binti Khuwailid, istri Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam.

Penduduk Irak memanggil beliau dengan Amr, sedangkan penduduk Madinah memanggil beliau Abdulloh.

Sebentar.. bentar… lalu hubungannya dengan judul tu apa?

Hubungannya? gini lo sodara-sodari….

Kita hafal banyak tentang sejarah orang-orang hebat di dunia ini… kita hafal nama idola kita: dari zaman Majapahit: Gajah Mada, Ken Arok; trus zaman kemerdekaan: Bung Karno, Bung Hatta.. zaman sekarang: (jawab sendiri ya…)

Tapi, apakah dari kita ada yang tahu bahwa Ibnu Ummi Maktum merupakan keturunan bangsawan Makkah bukan sekedar orang buta yang meminta pengajaran agama kepada Rosululloh?

Allohummaghfirlana…

Kebanyakan dari kita hanya tahu bahwa beliau adalah orang buta yang Alloh muliakan sebagai sebab diingatkannya Rosululloh agar dalam berdakwah tidak memilih-milih orang…  Kita tidak mengetahui bahwa beliau adalah orang besar.. termasuk keturunan bangsawan besar… kerabat Ummul Mukminin Khodijah binti Khuwailid, seorang wanita pertama yang masuk Islam dan mendukung Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam dalam dakwah beliau dengan seluruh harta bendanya.

Orang besar selalu dikelilingi orang besar…

Semoga Alloh merahmatimu Wahai Ibnu Ummi Maktum…

Renungan Surat Al-Balad : 4

Maret 19, 2011 pukul 11:56 pm | Ditulis dalam Iseng, R E N U N G A N, Tarbiyah | 1 Komentar

Ayat ke empat ini kalau diartikan kira-kira begini:

Sungguh Kami menciptakan manusia di dalam kepayahan

Ayat ini terletak setelah sumpah Alloh. Biasanya, kalimat yang berada setelah sumpah menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Penting, karena ayat ini menyinggung sifat dasar manusia.

Manusia diciptakan oleh Alloh dalam kepayahan. Sejak tercipta di rahim sang bunda sampai masuk ke liang lahat. Payah, susah, sedih dan yang nggak enak-enak itu selalu menemani manusia.

So… janganlah kita berkecil hati apabila kita tertimpa kesusahan. Baik itu orang baik, maupun orang jahat semuanya berada dalam kesusahan. Orang baik (baca: beriman) susah dalam menjalankan dien ini, ya yang diolok-olok, dituduh yang enggak-enggak, yang citranya suram karena kelakuan segelintir oknum yang ngaku beriman tapi lebih mengedepankan hawa nafsu dari tuntunan wahyu, dan masih banyak lagi….

Orang jahat juga sami mawon… mereka juga susah lho… sebenarnya tidak mudah lho ngelakuin kejahatan. Coba panjenengan yang sekarang ini, yang belum pernah merampok, memalak terus ngrampok dan malak…. wah… bakalan panjenengan tegang ndak ketulungan…

Lha kok jadi kemana-mana… balik ke pembahasan

Rosululloh memberikan kepada kita resep untuk menghadapi hal ini. Apa itu? SABAR saudara-saudara.

Sabar dalam menghadapi musibah… sabar dalam menjalani ketaatan… sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat…

Sabar… mudah diucapkan tapi beuuuurat untuk dijalankan.

Semua ngakuin kan..?

Hadits ke-4 dari 42 Hadits Arba’in

Maret 18, 2011 pukul 12:37 am | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tarbiyah | 3 Komentar

Dari Abdulloh bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata: Rosululloh -orang yang benar dan dibenarkan- bercerita kepada kami: Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibunya selama 40 hari berupa nuthfah (cairan kental); empat puluh hari kemudian, kalian berubah menjadi alaqoh (segumpal darah); empat puluh hari kemudian, kalian menjelma menjadi mudlghoh (sekerat daging). Pada waktu ini, seorang malaikat diutus untuk meniupkan ruh dan menurunkan empat ketetapan; yaitu rizki, amal, ajal, dan bahagiakah dia atau celaka.

Demi Dzat yang diriku di tangan Nya (Demi Alloh), Sesungguhnya kalian beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu jengkal, akan tetapi cacatan telah menentukan bahwa dia masuk ke neraka, maka dia beramal amalan penghuni neraka dan akhirnya dia akan masuk ke neraka.

Sebaliknya, ada dari kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal satu jengkal, akan tetapi catatan telah menentukan bahwa dia masuk ke surga, maka dia beramal amalan penduduk surga dan akhirnya dia akan masuk ke dalam surga.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim

Hadits ini menjelaskan 3 hal:

1. Penciptaan Manusia

Manusia diciptakan melalui beberapa fase. Islam telah menjelaskannya 14 abad yang lalu; mendahului penemuan orang-orang modern.

2. Setiap orang sudah ditentukan rizki (seberapa banyak jatah rizki selama hidupnya); amal (banyak amal sholeh atau banyak maksiatnya); ajal (berapa lama umurnya di dunia dan kapan matinya), serta bahagia atau celaka (di dunia maupun di akherat).

3. Semua orang sudah ditetapkan apakah dia cetakan ahli neraka apa ahli surga, tetapi orang dilarang untuk santai-santai. Kenapa? yang pertama: kita tu nggak tau kita dapet tiket ke mana. tentunya orang pinter pengen akhir yang bahagia lah… berusaha meraih surga. ya kan…?

Takdir itu… (Bag. 2)

Januari 25, 2011 pukul 2:29 pm | Ditulis dalam Cerita, Inspirasi, R E N U N G A N | 2 Komentar

Yang paling membikin orang (yang kenal agama) patas semangat trus nyalahin takdir dan Tuhan (Na’udzubillah) ya ketika usaha yang telah direntas mati-matian tadi tertabrak takdir.

Ibarat mobil mercy vs kereta api. Hancur berkeping-keping deh.

Seperti halnya dua orang murid, si pintar dan si bodoh. Ketika ujian naik kelas, si bodoh naik dan si pintar tinggal kelas. Kok gitu?

Mungkin saja pas ujian ini, si bodoh dapat pencerahan dan si pintar sedang bad mood. Jadinya ya si bodoh bisa njawab soal dengan benar dan si pintar kebingungan menjawab soal. he..he..he..

Banyak sekali kejadian-kejadian semacam ini di sekitar kita dan hal ini dipastikan akan terjadi berulang dan berulang. Yang  jadi pertanyaan adalah bagaimana sikap kita?

Sikap yang harus diambil oleh seorang muslim adalah legowo menerima yang menjadi suratan takdirnya, walaupun rasanya seperti makan empedu.

Legowo? iya… sikap ini merupakan satu-satunya solusi mustajab.

Mau legowo, takdir yang sudah terjadi ndak bakal berubah tapi dapet pahala, atau mau nggersulo (marah-marah dan ndak terima), ya takdirnya kayak gitu juga plus dapat bonus dosa.

Hayo… pilih mana ?

Yang perlu disadari adalah bahwa yang diminta dari kita (manusia) adalah usaha, bukan hasil.

Sekarang… legowo nggak dengan takdir yang kita terima 😀

Takdir itu …. (Bag. 1)

Januari 25, 2011 pukul 1:54 pm | Ditulis dalam Inspirasi, Iseng, R E N U N G A N | Tinggalkan komentar

Takdir adalah Perjalanan manusia yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Kalau dilihat dari hadits:

Ketika manusia di dalam masa penciptaan di perut sang ibunda dalam umur 120 hari, Allah mengutus Malaikat untuk memberikan ruh kepada janin dan menuliskan empat hal: Rizqi, Amal perbuatan, Ajal dan Celaka-Bahagia.

Takdir adalah misteri yang tidak bisa dinalar. Takdir tidak terkait dengan persiapan, kemauan, dan usaha manusia.

Sematang apapun persiapan, setebal apapun kemauan, dan sekeras apapun usaha yang dilakukan manusia terkadang menjadi sia-sia tatkala bersua dengan Takdir.

Takdir terkadang menyapa kita secara aneh. Saya punya pengalaman menarik; ketika duduk di kelas persiapan pada tahun 2000, jumlah murid kelas tersebut sekitar 40 anak, putra-putri. Kami memperebutkan hak untuk memasuki Kelas Aliyah. Bagi yang gagal, dipersilahkan mengikuti kelas Muallimin.

Selama setahun penuh, kami berjuang, berlomba untuk menjadi yang terbaik. Saya? nomor 20. Itu adalah nomor rangking pada semester ganjil. Menyerah? Tidak!

Saya langsung tancap gas pada semester genap. Kembali berjuang untuk menduduki 10 besar (kalo 5 besar, jelas nggak mungkin).

Hasilnya? Pada akhir semester genap, saya bisa nongkrong di peringkat 11 dengan nilai rata-rata 6 koma. Sama dengan mbak Sofi di nomor 12. Mbak Sofi unggul di bidang agama, sedang saya unggul di  bidang sejarah (hiks..hiks.. kurang 1 tingkat), tetapi karena huruf M lebih dahulu dari huruf S, maka jadinya seperti ini. Di sinilah takdir berperan.

Di akhir semester sebelum liburan, diumumkan bahwa yang diterima di aliyah hanya “7” orang. (jelas saya di luar hitungan). Selang  dua minggu (ketika liburan), beredar kabar bahwa jumlah 7 naik ke 10. Selang 1 pekan, jumlah 10 membengkak 15. (senyumku mulai mengembang lah).

Sehari sebelum kembali masuk kelas, terdengar kabar bahwa yang diterima 11 orang (termasuk aku di urutan buncit he..he..he..).

Inilah takdir, dengan nilai akhir yang sama, dan dibedakan oleh huruf pertama pada nama, jadinya saya masuk aliyah, trus mbak Sofi masuk Muallimat.

terusannya

Natsir tentang Islam dan Negara

September 19, 2009 pukul 1:40 am | Ditulis dalam Inspirasi, Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | Tinggalkan komentar

Kalau perlu hendak memperbaiki negara yang begitu keadaannya, perlulah dimasukkan ke dalam dasar-dasar hak kewajiban antara yang memerintahkan dan yang diperintah. Harus dimasukkan ke dalamnya pertalian rohani antara manusia dengan Ilahi, yang berupa peribadatan yang khalis (murni) , ialah satu-satunyaalat yang sempurna untuk menghindarkan semua perbuatan rendah dan mungkar. Perlu ditanam di dalamnya budi pekerti yang luhur, suatu hal yang tidak boleh tidak, perlu untuk mencapai keselamatan dan kemajuan, perlu ditanamkan dalam dada penduduk negara-negara itu satu falsafah kehidupan yang luhur dan suci, satu ideologi yang menghidupkan semangat untuk berjuang mencapai kejayaan dunia dan kemenangan akherat. Semua itu terkandung dalam satu susunan, satu stelsel, satu kultur, satu ajaran, satu edeologi yang bernama ISLAM

Natsir v Soekarno

September 19, 2009 pukul 1:30 am | Ditulis dalam Inspirasi, Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | 3 Komentar

Pada tahun 1990-an, Natsir pernah terlibat polemik dengan Soekarno, tentang agama dan negara.

Menurut Soekarno, agama mesti dipisahkan dari negara. Ia berpendapat, dengan mengutip, di antaranya adalah Syeikh Ali Abdur Raziq, seorang ulama dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, bahwa dalam Al-Qur’an dan sunnah maupun ijma ulama, tidak ada keharusan bersatunya negara dengan agama. Soekarno lalu menengok ke Turki, di mana Mustafa Kemal Attartuk memisahkan agama dari negara. Dan, menurut Soekarno, karena itu Turki bisa maju.

Tapi bagi Natsir, pemikiran Soekarno itu keliru, karena Islam itu tidka dapat dipisahkan dari negara. Urusan negara adalah bagian dari menjalankan perintah Allah. Natsir merujuk merujuk pada Al-Qur’an surat 51: 56, “Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada Ku“. Bagi Natsir, negara bukanlah segala-galanya. Negara hanyalah alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya.

Natsir pernah mengatakan “Bagi kaum Muslimin, negara bukanlah suatu badan yang tersendiri yang menjadi tujuan. Dengan persatuan agama dengan negara yang kita maksudkanbukanlah bahwa agama itu cukup sekedar dimasukkan saja ke sana sini kepada negara ini. Bukan begitu! Negara, bagi kita bukan tujuan, tetapi alat. Urusan kenegaraan pada pokoknya dan pada dasarnya adalah satu bagian yang tak dapat dipisahkan, satu ‘intergreerenddeel‘ dari Islam. Yang menjadi tujuan ialah: Kesempurnaan berlakunya undang-undang ilahi, baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri (sebagai individu), ataupun sebagai anggota dari masyarakat”.

Islam vs Demokrasi

Juli 17, 2009 pukul 10:50 pm | Ditulis dalam Inspirasi, Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | 8 Komentar

Suatu kali, Ahmad Hassan pernah ditanya, “Tuan tadi mengatakan bahwa pemerintahan Islam itu berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan musyawarah. Sedangkan pemerintahan demokrasi tulen, hanya dengan rembukan rakyat. Di antara dua ini, manakah yang lebih baik?”

“Pemerintahan secara demokrasi atau kedaulatan rakyat, semata-mata berdasarkan kemauan rakyat. Kalau rakyat mau halalkan zina, mengizinkan produksi minuman beralkohol, dan seterusnya, niscaya boleh. Sedangkan menurut Islam, yang haram tetaplah haram; yang makruh tetaplah makruh; dan yang sunah tetaplah sunah. Kedaulatan rakyat berlaku di urusan-urusan luar dari yang tesebut. Dalam pemerintahan dengan cara Islam, maksiat tidak dapat menjadi perkara biasa, sedangkan dalam sistem pemerintahan demokrasi tulen, yang haram bisa jadi halal, yang wajib bisa jadi haram, asal dikehendaki oleh rakyat. Dari sini, tuan bisa tahu mana yang lebih baik” Jawab Ahmad Hassan

Wanita Muslimah

Juli 14, 2009 pukul 10:53 pm | Ditulis dalam Inspirasi, Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | Tinggalkan komentar

Wanita muslimah harus bersungguh-sungguh dalam memahami Al-Qur’an untuk mengetahui apa tujuan dakwah Islam dan untuk membentuk pribadi mereka sebagai pribadi muslimah yang rabbaniyyah yang bermanfaat bagi diri diri sendiri dan bagi orang lain.

Peran wanita muslimah tidaklah sebatas merawat suami, anak, dan rumahnya. Ini hanyalah sebagian kecil dari tanggung jawabnya sebagai muslimah, karena muslimah juga mempunyai tanggung jawab untuk membantu suaminya, keluarga dan saudara-saudaranya dalam bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Muslimah harus berusaha mengarahkan semua perhatian suaminya untuk membela Islam dan berkorban di jalannya serta membantunya memikul beban perjuangan.

Zainab Al-Ghazali

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.