Renungan dari Surat Yusuf : 47-49

Februari 10, 2012 pukul 10:28 pm | Ditulis dalam Inspirasi, R E N U N G A N | 1 Komentar

Ayat di atas merupakan cerita tentang takwil mimpi penguasa Mesir yang dilakukan oleh Nabi Yusuf alaihissalam.

Sang Raja bermimpi melihat 7 ekor sapi kurus memakan 7 sapi yang gemuk. Mimpi yang membingungkan ini disayembarakan bahwa siapa saja yang bisa menakwilkan mimpi ini, maka dia akan diberi imbalan yang besar; akan tetapi, tidak seorang pun yang bisa menakwilkan mimpi tersebut walaupun dari kalangan cerdik pandai di masanya.

Di tengah kegalauan raja atas mimpinya ini, seorang pembantunya yang pernah dihukum penjara teringat Nabi Yusuf yang telah menakwilkan mimpinya secara tepat. Pembantu ini pun memberitahu raja apa yang pernah dia alami ketika bersama Nabi Yusuf. Raja pun mengutusnya ke penjara untuk menemui Nabi Yusuf dan bertanya tentang makna mimpi ini.

Nabi Yusuf pun berkata:

” Takwil mimpi raja adalah bangsa kita akan mengalami masa panen yang luar biasa selama 7 tahun berturut-turut. Ketika masa ini berlangsung, jangan habiskan apa yang dipanen akan tetapi simpan sebagian hasil panenan tersebut sebagai lumbung makanan. ”

“Akan datang setelahnya, Tujuh tahun masa paceklik yang mengerikan yang akan menghabiskan lumbung makanan yang sudah kalian persiapkan sebelumnya. Sisihkan sedikit lumbung makanan tersebut sebagai benih yang akan kalian tanam.”

“Setelah masa paceklik ini, akan datang musim hujan yang akan menyapu segala kesengsaraan yang terjadi dan semua orang bisa memeras anggur”

Dari rangkaian ucapan Nabi Yusuf alaihissalam, setidaknya ada dua renungan yang dapat diambil.

Pertama: Manusia adalah makhluk yang lemah. Sehingga tidak pantas, kalau manusia mendewakan akal pikirnya seakan-akan akal pikirnya bisa memecahkan segala persoalan tanpa meminta tolong kepada Alloh. Sudah banyak bukti di sekitar kita, bagaimana akal pikir manusia tidak dapat menyelesaikan masalah secara menyeluruh.

Seorang beriman memiliki sebuah senjata yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak beriman; yaitu: tawakkal (berserah diri) kepada Sang Kholiq. Seorang beriman harus senantiasa merasa butuh kepada Alloh. Rosululloh mengajarkan agar kita selalu melakukan istikharah (meminta pilihan) kepada Alloh pada setiap masalah yang kita hadapi, dari yang besar sampai yang kecil. Dari cari mantu sampai memilih rumah, sekolah bagi anak dan yang sejenisnya.

Apa sih Istikhoroh itu? Istikhoroh itu adalah doa yang dilakukan setelah melakukan dua rakaat sholat sunnah. Isi doa itu kita meminta kepada Alloh supaya ditunjukkan kepada yang terbaik untuk kita. Karena pilihan Alloh adalah yang terbaik untuk kita.

Kedua: Seorang mukmin harus memiliki rencana 15 tahun ke depan. Sebagaimana Nabi Yusuf  membikin rencana untuk 14 tahun ke depan. Tapi perlu diingat bahwa dalam membikin rencana kita harus bertawakkal kepada Nya. Man suppose God dispose (Manusia merencanakan tetapi Alloh lah yang menentukan).

Jadi, apa rencana anda 14 tahun ke depan?

 

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hello colleagues, how is the whole thing, and what you would like to say on the topic of this piece of writing,
    in my view its actually remarkable in favor of
    me.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: