Natsir tentang Islam dan Negara

September 19, 2009 pukul 1:40 am | Ditulis dalam Inspirasi, Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | Tinggalkan komentar

Kalau perlu hendak memperbaiki negara yang begitu keadaannya, perlulah dimasukkan ke dalam dasar-dasar hak kewajiban antara yang memerintahkan dan yang diperintah. Harus dimasukkan ke dalamnya pertalian rohani antara manusia dengan Ilahi, yang berupa peribadatan yang khalis (murni) , ialah satu-satunyaalat yang sempurna untuk menghindarkan semua perbuatan rendah dan mungkar. Perlu ditanam di dalamnya budi pekerti yang luhur, suatu hal yang tidak boleh tidak, perlu untuk mencapai keselamatan dan kemajuan, perlu ditanamkan dalam dada penduduk negara-negara itu satu falsafah kehidupan yang luhur dan suci, satu ideologi yang menghidupkan semangat untuk berjuang mencapai kejayaan dunia dan kemenangan akherat. Semua itu terkandung dalam satu susunan, satu stelsel, satu kultur, satu ajaran, satu edeologi yang bernama ISLAM

Natsir v Soekarno

September 19, 2009 pukul 1:30 am | Ditulis dalam Inspirasi, Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | 3 Komentar

Pada tahun 1990-an, Natsir pernah terlibat polemik dengan Soekarno, tentang agama dan negara.

Menurut Soekarno, agama mesti dipisahkan dari negara. Ia berpendapat, dengan mengutip, di antaranya adalah Syeikh Ali Abdur Raziq, seorang ulama dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, bahwa dalam Al-Qur’an dan sunnah maupun ijma ulama, tidak ada keharusan bersatunya negara dengan agama. Soekarno lalu menengok ke Turki, di mana Mustafa Kemal Attartuk memisahkan agama dari negara. Dan, menurut Soekarno, karena itu Turki bisa maju.

Tapi bagi Natsir, pemikiran Soekarno itu keliru, karena Islam itu tidka dapat dipisahkan dari negara. Urusan negara adalah bagian dari menjalankan perintah Allah. Natsir merujuk merujuk pada Al-Qur’an surat 51: 56, “Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada Ku“. Bagi Natsir, negara bukanlah segala-galanya. Negara hanyalah alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya.

Natsir pernah mengatakan “Bagi kaum Muslimin, negara bukanlah suatu badan yang tersendiri yang menjadi tujuan. Dengan persatuan agama dengan negara yang kita maksudkanbukanlah bahwa agama itu cukup sekedar dimasukkan saja ke sana sini kepada negara ini. Bukan begitu! Negara, bagi kita bukan tujuan, tetapi alat. Urusan kenegaraan pada pokoknya dan pada dasarnya adalah satu bagian yang tak dapat dipisahkan, satu ‘intergreerenddeel‘ dari Islam. Yang menjadi tujuan ialah: Kesempurnaan berlakunya undang-undang ilahi, baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri (sebagai individu), ataupun sebagai anggota dari masyarakat”.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.