Material Oriented….

April 27, 2009 pukul 1:33 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Uneg-uneg, Waahhhhhh | Tinggalkan komentar

Judulnya nggaya nih….

Tapi apa pembahasannya?

Sudah baca Jawapos hari ini (27/4) ? tentang banyaknya orang seteres di Jakarta?

Aku ketika membacanya cuma bisa nggelus dada. Aku yakin kejadian ini bukan hanya terjadi di Jakarta saja, tapi juga terjadi di kota-kota besar di seluruh negeri tercinta ini.

Koran itu menyebutkan salah satu penyebabnya ialah persaingan hidup, orientasi material. Kalau nggak borju, nggak bakalan diterima. Seperti yang dialami sinta. Teman-temannya orang berduit (walaupun duit itu tinggal nodong ortu), dan selalu mementingkan barang yang dipakai orang sebelum dijadikan teman.

Apapun penyebabnya, sumber masalah dari penyebab itu ialah cara pandang terhadap materi. Orang yang materinya banyak, itu lah yang dipertuan; yang nggak punya materi, minggir aja deh … mengganggu pemandangan!

Ini adalah hasil budaya materialistik, yang merupakan satu paket dengan pasar bebas, dan demokrasi. Coba kalau Islam, nggak bakalan jadi seperti ini…

Islam itu menghargai hak milik seseorang… Orang mau mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, boleh… tapi, jangan lupa dengan orang lain. Beri orang lain bagian harta yang didapat, entah ini dinamakan zakat, atau shadaqah.

Islam menjelaskan (lewat Al-Qur’an dan Al-Hadits) bahwa sebenarnya seluruh manusia, sejak zaman Adam hingga orang yang akan hidup terakhir nanti, jatah rizkinya di dunia ini sama (kita misalkan dengan bilangan 10), tapi kita tidak menerima bulat bilangan sepuluh itu. Ada kalanya, kita hanya diberi 6, 8, 2, 1 atau bahkan tidak diberi sama sekali. Lha kemana sisa jatah kita? Dititipkan kepada orang lain.

Untuk apa? Untuk menumbuhkan, menyemai rasa sosial di antara manusia. Agar setiap orang saling bantu-membantu. Si kaya membantu yang miskin dengan kekayaannya.

Islam menekankan kepada orang yang kaya, bahwa dia kaya karena ada bagian harta orang lain yang dititipkan kepadanya. Atas kesadarannya dalam menjalankan agama, dia diminta mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Begitu juga orang pintar, orang bijak, orang penyabar. Mereka bisa mendapat gelaran tersebut karena ada orang lain yang bodoh, yang tidak bijak, dan tidak sabaran. Kenapa? Sama seperti harta itu, sebagian kepintaran orang lain, sebagian kebijaksanaan orang lain, sebagian kesabaran orang lain, dititipkan kepadanya.

Kalau orang sudah menyadari ini, maka materi itu tidak untuk dikejar. Mereka tidak akan bekerja, belajar hanya untuk menumpuk-numpuk materi. Karena bekerja, belajar itu hanyalah wasilah (perantara) sampainya jatah rizki yang telah ditetapkan atasnya; sehingga persaingan yang terjadi itu persaingan yang sehat dan tidak memakan korban.

So.. sekarang sadar nggak?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: