Jadi Burung Yuk…

April 26, 2009 pukul 4:32 am | Ditulis dalam Mutiara, R E N U N G A N, Tarbiyah | Tinggalkan komentar

Eh… tapi jangan salah sangka ini mantra burung jadi-jadian lho… kalo mantra-mantra-an berarti ini ngilmu hitam…

Maksudku di sini, sifat burung yang tawakkal…. Burung tuh (kata dia, tapi jangan tanya saya kapan burung cerita…)  dia nggak pernah mikirin yang namanya makanan. Keluar di pagi hari dari sarangnya dalam keadaan lapar, pulang kandang sudah kenyang deh…

Itu burung, kalau manusia? kalau aku (yang merasa jadi manusia) tuh banyak maunya. Hari ini mikirin besok, bukan hari ini. Padahal, sudah jelas-jelas aku tahu ada kata-kata kemaren sejarah, besok mimpi, sekarang adalah kenyataan.

Pernah denger kata kayak githu nggak? kalau nggak persis, ya paling tidak maknanya sama dengan kalimat tersebut.

Hadapi kenyataan sekarang. Berbuatlah untuk hari ini. Jangan terlalu merisaukan hari esok yang belum jelas, apakah kita masih hidup atau sudah sowan ngadep pangeran.

Mikir sih boleh… tapi sampai terobsesi dan mengabaikan tantangan yang mesti dihadapi hari ini… wah itu sih pemimpi…. (kalau pemimpinya edensor sih nggak papa, kan cuma novel…)

Secara logika, itu sudah nggak bisa diterima. Tapi, ya yang namanya manusia, apalagi hidup di zaman yang segala sesuatu dinilai dari material, hal ini tentu syusyahnya minta ampun. Hari ini, buat mikir besok. Mau makan apa? pakek baju apa? Mau weekend kemana? de el el…

Kalau mau mengambil pelajaran dari nilai agama (agama apa saja, apalagi Islam), semua orang pasti tahu bahwa setiap agama itu mengusung kesederhanaan.

Pola hidup sederhana… hidup seadanya…

Ambil contoh Islam. Di dalam Al-Islam diajarkan ketika bersedekah, agar jangan terlalu pelit, tapi juga jangan terlalu boros. Yang sedang saja.

Dalam pola makan, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan agar jangan makan sebelum kita benar-benar merasa lapar, tapi kalau sudah makan, segera berhenti kalau sudah merasa kenyang.

Dalam berpakaian, tidur, de el el. Islam mengajarkan kesederhanaan. Tidak kepingin sama yang ada pada orang lain.

Kembali ke burung…

Kira-kira bisa nggak ya, kita – saya dan anda semua- meniru sifat burung tersebut… mengambil secukupnya dari kehidupan dunia ini….

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: