Hadits 2 dari 42 Hadits Arba’in, bag. 6

April 26, 2009 pukul 4:51 am | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tarbiyah | Tinggalkan komentar

“… Orang tersebut berkata: “Kalau begitu, beritahukanlah kepadaku apa tanda-tanda kiamat itu?” Rasulullah bersabda: “Seorang budak perempuan itu melahirkan tuannya, dan engkau akan melihat pengembala kambing yang tidak berbaju (ngligo, jw), tidak beralas kaki (nyeker, jw), lagi miskin, merek berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan …”

Orang asing tersebut tidak menyerah ketika diberitahu bahwa Rasulullah pun tidak mengetahui kapankah hari Kiamat. Orang itu bertanya tentang tanda-tanda Kiamat, yang oleh Rasulullah dijawab: bahwa salah satu tanda-tanda Kiamat ialah ketika seorang anak berani durhaka kepada orang tuanya. Dalam hal ini Nabi menggambarkannya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.

Tanda kiamat yang lain: orang-orang yang tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin dijadikan pemimpin. Dalam hal ini Nabi menggambarkannya sebagai orang yang hidupnya di desa, hanya tahu masalah kambing dan padang rumput, tiba-tiba dijadikan penguasa, ya tentunya nggak tahu apa-apa no… terus negaranya bubrah…

Tanda kiamat yang lain: orang-orang miskin itu tidak sungkan-sungkan untuk membangun rumah bertingkat, rumah mewah. Tidak peduli lagi dari mana uang itu didapat. Tidak peduli, dengan keadaan dirinya sendiri. Tidak peduli, bahwa dirinya miskin.

Asal dia bisa menampakkan status sosialnya, dia sudah merasa cukup. Asal orang tidak tahu bahwa dia sebenarnya dari golongan orang yang tidak mampu. Dia tidak peduli dengan norma-norma agama, yang penting dapet uang. Uang, uang dan uang…

Jangan korupsi… emang gua pikirin… Jangan menipu… ah sok alim loe….

Sejak bangun tidur, hingga akan memejamkan kedua mata lagi, yang ada di benaknya, yang ada di pikirannya, hanyalah uang. Bagaimana supaya dapat menimbun uang sebanyak-banyaknya… Makin banyak, makin baik…

Supaya nanti bisa mencukupi keturunannya… alasan yang biasa dipakai.

Inilah pikiran orang yang menilai kebahagian itu tergantung materi.

Mereka hanya menipu diri sendiri… sebenarnya mereka itu kering dari kebahagiaan. Kenapa mereka tidak mau belajar dari seorang penjual batu ungkal di kawasan metropolitan? (tahu batu ungkal kan…? itu lho batu yang digunakan untuk mengasah pisau agar menjadi tajam…).

Bagaimana seorang penjual batu ungkal, masih menjajakan dagangannya dengan pikulan. Padahal di zaman ini, harga pisau baru pun sudah murah meriah…

Dia tidak peduli apakaha ada yang membeli atau tidak, yang penting dia berusaha, ikhtiar… lalu dapet rizki apa nggak.. itu urusan akhir…

Merenung sebentar yuk…

kayaknya zaman kita ini sudah seperti apa yang digambarkan oleh Rasulullah ya…

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: