Pelajaran dari Tukang Becak

April 13, 2009 pukul 11:07 pm | Ditulis dalam Cerita, Uneg-uneg | 2 Komentar

Sore ketika hujan turun dengan deras, diiringi hembusan angin yang tidak sekencang yang pernah terjadi. Aku dan temanku duduk di depan rumah menyaksikan pemandangan yang suram, tapi yang diomongin masalah bola. Masalah serunya hasil pertandingan liga-liga dunia.

Tiba-tiba lewat sebuah becak mengantar penumpang yang kebetulan tetangga depan rumah. Pertama-tama, aku nggak perhatian sama sekali kepada Pak becak itu. Tapi, perhatianku berhasil disita oleh tukang becak tersebut.

Apa sebab? Ketika penumpang sudah turun, membayar, dan masuk rumah, ternyata tukang becak tersebut masih berdiri di emperan rumah, berteduh dari serangan hujan dan angin. Baju dan celana yang dipakai sudah basah kuyup.  Bahkan sempat aku lihat tukang becak ini menggigil menahan dingin.

Hujan sore itu tidak berhenti, tetapi malah semakin kencang dan deras. Aku lihat tukang becak yang ku taksir umurnya sekitar 40 an tahun itu merasa bimbang.

Entah mengapa, rasa bimbang yang ku lihat dari raut muka itu membuat hatiku trenyuh.

Aku merasa bersalah. Bersalah pada diriku yang tidak pandai bersyukur kepada Tuhanku, Allah. Bersyukur terhadap kenikmatan  yang telah dilimpahkan atasku. Kenikmatan berupa orang tua yang punya ekonomi yang mapan (menurut pandangan orang lain), punya rumah untuk berlindung, punya adik-adik yang lucu, tapi juga menjengkelkan, dan masih banyak lagi yang perlu aku syukuri.

Dibanding dengan tukang becak itu, keadaanku ini lebih baik dari keadaannya. Jauh-jauh lebih baik darinya.

Aku merasa kasihan kepada tukang becak itu. Demi mendapatkan lima ribu atau sepuluh ribu, tukang becak itu harus mengayuh pedal becak, menempuh lalu lalangnya kendaran bermotor. Hujan ataupun panas tidak dihiraukan. Tak jarang, tukang becak itu mendapatkan umpatan kasar dari pengguna kendaraan bermotor yang merasa terganggu perjalannya karena becak yang berjalan.

Akhirnya, aku masuk kembali ke dalam rumah dan membikin segelas teh manis yang panas. Niatku, aku ingin memanggil tukang becak itu untuk menghangatkan badan barang sejenak di rumahku. Akan tetapi, ketika aku sampai di depan rumah, aku dapati tukang becak tersebut sudah pergi.

Aku sadar dan merutuki diriku sendiri, kenapa aku tadi tidak memberi tahu tukang becak tersebut sebelum aku masuk membikin teh tadi. Ah, sungguh suatu tindakan yang bodoh!

Aku mendapatkan satu hal, bahwa benar apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa jika kamu ingin bersyukur dengan sebenar-benar syukur, maka lihatlah orang yang kedudukannya, keadaannya lebih renddah dari kalian. Niscaya, kalian akan banyak bersyukur.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Salut
    memang sudah seharusnya kita lebih perhatian pada lingkungan
    mencoba memberi pada sekitar
    serta bersyukur atas nikmat yang kita terima

  2. @ kellymareta

    Tapi bersyukur itu sulit banget deh kayaknya…
    Kebanyakan dari kita, biasanya itu, bersyukur kalau ada maunya deh… he..he..he…

    Salam kenal, dan matur nuwun sudah mau nulis orek-orek di sini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: