Orang Beriman bag.3

Maret 13, 2009 pukul 10:33 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tarbiyah, Tips, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Seorang Beriman itu:

Harus tunduk kepada Allah dan Rasul Nya. Baik dengan menjalankan segala perintah Keduanya, maupun menjauhi segala larangannya.

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat An-Nisa’ (4):59

Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kalian kepada Rasul Nya, serta kepada orang-orang yang memegang urusan di antara kalian. Apabila kalian berselisih di dalam suatu hal, maka kembalikanlah hal tersebut kepada (hukum) Allah dan Rasul Nya jika kalian itu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian (pengembalian segala urusan kepada hukum Allah dan Rasul Nya) itu merupakan sebaik-baik dan sebagus-bagus akibat”

Ayat di atas mengandung tiga pelajaran.

Pelajaran Pertama; Ketaatan kepada Allah dan Rasulnya itu bersifat mutlak. Ketaatan kepada keduanya itu mencakup segala hal yang tersurat maupun tersirat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Entah ketaatan kepada keduanya itu bisa dicerna oleh akal kita, atau tidak. Sebab, akal kita ini ada batasnya. Mungkin saja, akal kita saat ini belum bisa mencerna kenapa Allah dan Rasul Nya memerintah begini, atau melarang begitu; akan tetapi, suatu saat kelak, Allah akan memberikan kemampuan bagi kita untuk melihat hikmah di balik perintah maupun larangan yang dulunya tidak bisa kita cerna.

Yang diminta dari kita ialah ketaatan kita kepada Allah dan Rasul Nya. Seperti halnya seorang prajurit kepada komandannya, atau seorang kawula kepada junjungannya. Allah dan Rasul Nya tidak akan meminta kita untuk mengerjakan sesuatu di luar kemampuan kita. Sebab, Allah sudah berjanji di dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah (2):286

Allah tidak membebani suatu diri kecuali menurut kemampuannya

Subhanallah; betapa Maha Pengasihnya Allah! Kita melakukan apa yang Dia perintahkan semampu kita, tetapi balasan yang kita terima berlipat-lipat ganda nilainya dari perbuatan kita yang pas-pasan.

Pelajaran Kedua; Ketaatan kepada Ulil Amri atau orang yang memegang urusan muslimin ini bersifat terbatas. Terbatas, karena ketaatan ini hanya berlaku pada perkara-perkara yang tidak melanggar perintah atau larangan Allah. Begitu juga ketaatan ini berlaku pada perkara-perkara yang tidak merubah hukum Allah. Selagi perintah itu melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, maka tidak ada kewajiban untuk mentaati ulil amri tersebut.

Seorang ulama memang diperbolehkan memberi fatwa pada hal-hal menyangkut kemaslahatan muslimin secara umum. Biasanya fatwa seorang ulama itu bersifat temporer, terkait oleh waktu, keadaan, dan tidak mengikat; karena mungkin saja fatwa itu akan berubah dengan berubahnya waktu. Fatwa ulama selalu berputar pada masalah mu’amalah dan furu (cabang), bukan ibadah dan ashl (pokok). Sebab, masalah ibadah dan ashl itu sudah ada aturannya dari Allah dan Rasul Nya. Manusia tinggal mengikut saja; tidak boleh mengada-ada, atau mengira-ngira.

Terlebih lagi, mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang pemimpin (entah itu presiden atau perdana menteri) dikatagorikan sebagai ulil amri apabila dia memperhatikan kebutuhan ummat Islam, dan mengatur rakyatnya dengan aturan Islam. Oleh karena itu, ketika seorang pemimpin tidak mengayomi ummat Islam dan tidak mengatur negaranya dengan aturan Islam, maka dia tidak dikatagorikan sebagai ulil amri, yang dengan sendirinya pemimpin yang macam itu tidak ada kewajiban untuk taat kepadanya (maksud saya, mau taat tidak diganjar, nggak taat juga nggak berdosa; tetapi, kalau nggak taat kemudian ditangkap dan dipenjara itu masalah lain lho…).

Ketika seorang pemimpin dikatagorikan sebagai ulil amri, maka segala perintahnya (selagi tidak melanggar dan mengubah aturan-aturan Allah dan Rasul Nya) hukumnya wajib dikerjakan. Orang yang mengerjakan dapat pahala, sedangkan yang membangkang mendapat dosa.

Sebagai ilustrasi saja; sama-sama peraturan lalu lintas, kalau merah berhenti, kalau hijau jalan, apabila pemimpin negeri ini tergolong ulil amri, maka ketika lampu merah yang menyala akan tetapi tetap diterjang, maka si pelanggar mendapatkan dosa; sebaliknya, ketika pemimpin negeri ini bukan tergolong ulil amri, maka ketika lampu merah menyala itu diterjang, si penerjang tidak mendapatkan dosa. Paling-paling ketemu sama bapak Polisi.

Pelajaran ketiga; segala perselisihan di antara manusia itu harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul Nya. Dikembalikan kepada aturan-aturan keduanya yang terdapat di dalam Al-Qur’an danAs-Sunnah. Baik itu berupa urusan perdata, maupun pidana.

Panjang banget sih… yah hitung-hitung menyampaikan sedikit ilmu yang sempat mampir di telinga (he3x); sekaligus sebagai alasan bahwa ilmu yang saya dapat sudah saya sampaikan semampu saya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: