Orang Beriman bag.2

Maret 9, 2009 pukul 10:31 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Segala sikapnya menghasilkan pahala Nggak percaya… ?! Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda:

“Sungguh mengherankan segala urusan yang berkaitan dengan seorang mukmin, karena setiap urusan yang berkaitan dengannya itu selalu bernilai kebaikan, sedangkan hal ini tidak akan terjadi pada diri orang yang tidak beriman; yaitu apabila dia mendapatkan kelonggaran/kesenangan dan bersyukur, maka hal tersebut dihitung sebagai kebaikan; dan apabila dia mendapatkan kesusahan dan bersabar, maka hal tersebut juga dihitung sebagai kebaikan”

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Nah, jadi orang mukmin itu enak kan. Dapat rizki lalu bersyukur, dihitung pahala; kena musibah walaupun hanya kecocok paku lalu bersabar, dihitung sebagai pahala. Lha kalau dapat rizki tetapi tidak bersyukur, atau terkena musibah tetapi tidak bersabar?

Ya… itu namanya belum dikatakan sebagai orang mukmin dong… Karena orang mukmin itu paling tidak sudah tahu (=mempelajari) Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui; sehingga nggak ada ceritanya seorang mukmin bikin-bikin peraturan: yang poligami dipenjara sekian bulan plus membayar uang! Bukankah poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah apalagi wajib dikerjakan. Nikah itu wajib bagi yang mampu, tapi poligami itu mubah (bolah-boleh saja). Walaupun boleh, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berpoligami. Apa itu? Kesiapan dirinya dan keluarga untuk menerima poligami, ini satu. Kedua, mempersiapkan diri untuk dapat berlaku adil semampunya. Kok semampunya?! Iya, semampunya, karena yang dapat berbuat adil seadil-adilnya itu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri merasa dirinya pun kurang berbuat adil di dalam masalah kecondongan hati, sampai beliau ketika membagi giliran kepada para Ummul Mukminin, isteri-isteri beliau; beliau berdoa (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa`i dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang konon didla’ifkan oleh Al-Albani):

“Adalah Rasulullah itu membagi giliran hari kepada para isteri beliau dan beliau berbuat adil, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Inilah pembagian yang kulakukan semampuku, maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau mampu lakukan sedangkan hal tersebut tidak dapat aku lakukan”

Para ulama sepakat: bahwa keadilan yang dituntut di dalam masalah poligami ialah keadilan di dalam masalah materi; hal ini wajib diusahakan oleh sang suami sebagai konsekwensi poligaminya; sedangkan keadilan hati itu diusahakan semampunya agar tidak condong hanya kepada salah seorang isterinya. Hukum kebolehan berpoligami itu kekal hingga hari Kiamat; tidak dapat diubah-ubah seenaknya sendiri. Yang dipermasalahkan sekarang ialah para pelaku poligaminya, berlaku adil nggak mereka kepada para isterinya?!

Kalau nggak bisa berlaku adil kenapa mesti berpoligami…. Sekali lagi, poligami tidak menjadi haram dilakukan hanya karena para pelakunya tidak bisa berbuat adil! Hukum poligami itu tetap boleh, akan tetapi para pelaku poligami itulah yang perlu ditatar ulang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga mereka mengetahui konsekwensi poligami. Kalau boleh diumpamakan: hal ini sebagaimana menyetir mobil ato sepeda motor. Menyetir mobil ato sepeda motorkan harus punya SIM. Nah…kalau ternyata kebanyakan pengendara mobil/sepeda motor itu tidak punya SIM, apa terus mobil/sepeda motor dilarang untuk dikendarai sama sekali?! Kan nggak tho… Yang dilarang kan Cuma yang nggak punya SIM, yang punya ya monggo terus. Kok nggak nyambung dengan subjudulnya? Ya nggak papa deh, sekali-kali nggak nyambung, hitung-hitung variasi githu… he3x .

Segala sikapnya menghasilkan pahala Nggak percaya… ?! Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda: “Sungguh mengherankan segala urusan yang berkaitan dengan seorang mukmin, karena setiap urusan yang berkaitan dengannya itu selalu bernilai kebaikan, sedangkan hal ini tidak akan terjadi pada diri orang yang tidak beriman; yaitu apabila dia mendapatkan kelonggaran/kesenangan dan bersyukur, maka hal tersebut dihitung sebagai kebaikan; dan apabila dia mendapatkan kesusahan dan bersabar, maka hal tersebut juga dihitung sebagai kebaikan” Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Nah, jadi orang mukmin itu enak kan. Dapat rizki lalu bersyukur, dihitung pahala; kena musibah walaupun hanya kecocok paku lalu bersabar, dihitung sebagai pahala. Lha kalau dapat rizki tetapi tidak bersyukur, atau terkena musibah tetapi tidak bersabar? Ya… itu namanya belum dikatakan sebagai orang mukmin dong… Karena orang mukmin itu paling tidak sudah tahu (=mempelajari) Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui; sehingga nggak ada ceritanya seorang mukmin bikin-bikin peraturan: yang poligami dipenjara sekian bulan plus membayar uang! Bukankah poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah apalagi wajib dikerjakan. Nikah itu wajib bagi yang mampu, tapi poligami itu mubah (bolah-boleh saja). Walaupun boleh, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berpoligami. Apa itu? Kesiapan dirinya dan keluarga untuk menerima poligami, ini satu. Kedua, mempersiapkan diri untuk dapat berlaku adil semampunya. Kok semampunya?! Iya, semampunya, karena yang dapat berbuat adil seadil-adilnya itu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri merasa dirinya pun kurang berbuat adil di dalam masalah kecondongan hati, sampai beliau ketika membagi giliran kepada para Ummul Mukminin, isteri-isteri beliau; beliau berdoa (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa`i dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang konon didla’ifkan oleh Al-Albani): “Adalah Rasulullah itu membagi giliran hari kepada para isteri beliau dan beliau berbuat adil, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Inilah pembagian yang kulakukan semampuku, maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau mampu lakukan sedangkan hal tersebut tidak dapat aku lakukan” Para ulama sepakat: bahwa keadilan yang dituntut di dalam masalah poligami ialah keadilan di dalam masalah materi; hal ini wajib diusahakan oleh sang suami sebagai konsekwensi poligaminya; sedangkan keadilan hati itu diusahakan semampunya agar tidak condong hanya kepada salah seorang isterinya. Hukum kebolehan berpoligami itu kekal hingga hari Kiamat; tidak dapat diubah-ubah seenaknya sendiri. Yang dipermasalahkan sekarang ialah para pelaku poligaminya, berlaku adil nggak mereka kepada para isterinya?! Kalau nggak bisa berlaku adil kenapa mesti berpoligami…. Sekali lagi, poligami tidak menjadi haram dilakukan hanya karena para pelakunya tidak bisa berbuat adil! Hukum poligami itu tetap boleh, akan tetapi para pelaku poligami itulah yang perlu ditatar ulang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga mereka mengetahui konsekwensi poligami. Kalau boleh diumpamakan: hal ini sebagaimana menyetir mobil ato sepeda motor. Menyetir mobil ato sepeda motorkan harus punya SIM. Nah…kalau ternyata kebanyakan pengendara mobil/sepeda motor itu tidak punya SIM, apa terus mobil/sepeda motor dilarang untuk dikendarai sama sekali?! Kan nggak tho… Yang dilarang kan Cuma yang nggak punya SIM, yang punya ya monggo terus. Kok nggak nyambung dengan subjudulnya? Ya nggak papa deh, sekali-kali nggak nyambung, hitung-hitung variasi githu… he3x .

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: