SOLOKU YANG KUSAM…

Maret 2, 2009 pukul 10:20 pm | Ditulis dalam Uneg-uneg | 2 Komentar

Hari-hari ini wajah kota Solo tidak lagi BERSERI, wajah kota Solo amat sangat kusam. Kusam? Iya. Bagaimana tidak kusam, jika hampir di setiap sudut kota (kecuali daerah yang disterilkan) dipenuhi dengan berbagai gambar; entah itu dalam bentuk baliho, pamflet, dan sebagainya.

Gambar partai dan para calegnya dengan berbagai slogan yang kebanyakan OMDO (OMong DOang) dan NATO (No Action Talk Only). Coba bayangkan, masih jadi CALON saja sudah berani main tempel di sembarang tempat; di dinding rumah orang, di depan rumah orang; bagaimana nanti jika sudah jadi anggota?!

Bagaimana akan menyapu bersih korupsi, jika di waktu kampanye malah mengotori kota dengan berbagai macam hal yang hanya membikin sumpek pandangan mata (kalau orang jawa bilang: nyepeti moto). Atau beginikah gambaran demokrasi?

Kalau toh itu dilakukan supaya masyarakat mengenal diri si caleg, bukankah ada cara lain; misalnya dengan sering tampil di event-event daerah, atau malah berkunjung door to door, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kampong ke kampong lain.

Ah… itu kan menghabiskan waktu..

Baik, mungkin itu menghabiskan waktu, tetapi bukankah itu lebih baik daripada hanya sekedar memajang gambar dengan senyum, yang belum tentu akan diperhatikan orang. Bukankah lebih baik para caleg itu langsung bisa berinteraksi dengan masyarakat yang diharap dukungannya (bukan berarti saya kampanye lho..). Memang tidak dapat diharapkan bahwa si caleg akan meraup suara yang mengantarkannya kepada jabatan yang diincar, akan tetapi bukankah ini bisa dihitung sebagai tabungan untuk kampanye mendatang?!

Atau jangan-jangan ini merupakan mental instant. Maunya bekerja sebentar tapi mengharapkan hasil yang luar biasa. Mungkin banyak dari anda, ketika melihat sepintas gambar caleg yang dipasang di mana-mana (hingga mengotori kota), mengerutkan alis sambil bertanya-tanya “siapa sih orang ini?”. Kalau ada orang seperti ilustrasi di atas, saya maklum kok, soalnya banyak di antara mereka yang di hari-hari biasa hanya sibuk mengurusi pekerjaannya tanpa mau berinteraksi dengan masyarakat, akan tetapi ketika menjelang masa kampanye, mulai menampakkan diri; bagi-bagi sembako, mengadakan pengobatan gratis, menghadiri event-event local, bahkan jika terjadi bencana di suatu wilayah di kotanya, si caleg langsung turun ke lapangan memberi bantuan.

Instan bukan?! Kalau artis instant masih bisa dimaklumi, karena dunia hiburan itu hanya mengurusi masalah hiburan saja. Bukankah semakin banyak artis, maka semakin banyak akting yang bisa kita nikmati. Bosan dengan yang ini, ganti lihat itu dst.

Lha kalau anggota Legislatif instant? Hancur dong Negara! Segala yang instant itu nggak ada yang bagus. Mau contoh? Mie instant dengan segala mereknya, minuman instant dan lain-lain yang instant itu ternyata berbahaya bagi kesehatan tubuh (kalau mau tahu lebih detail, Tanya saja pada ahli-ahli gizi dan kesehatan; soalnya saya bukan dokter..he..he..he..). Tokoh-tokoh hebat di tampuk kepemimpinan itu merupakan orang gemblengan yang sudah lama terjadi interaksi antar mereka dengan masyarakat; bukan orang instant yang tiba-tiba muncul; simsalabim.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, bahkan Mu’awiyyah merupakan orang-orang yang sudah dikenal sebelum mereka terpilih sebagai pemimpin. Asy-Syahid Ahmad Yasin, Yasser Arafat, Margaret Tracher, bahkan sampai Adolf Hitler yang terkenal kebengisannya merupakan orang yang dikenal oleh lingkungannya (walaupun Hitler terkenal dengan keburukan perangainya). Tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh yang tidak mungkin disebutkan di sini satu-persatu.

Apakah para caleg di Indonesia ini tidak mau melihat kepada sejarah. Pemimpin yang baik harus merupakan gemblengan zamannya, bukan muncul secara instant?!

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sepertinya nggak cuma di SOLO. Ditempat lain juga sama seperti itu, kumuh dan kusam😦
    kalau sekarang itu mas… wah tambah kacau… balau

  2. Perasaanku juga sama. Kalau mau mencari simpati, mengapa tidak pakai cara yang simpatik, ya?

    Kita lihat yuk bung Shodiq, tingkah laku orang-orang yang katanya hendak memakmurkan Indonesia yang tercinta ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: