Hujan Angin Malam Kamis…

Maret 26, 2009 pukul 11:56 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Wuih… betul-betul nightmare. Hujan yang menimpa kota Solo pada Rabu Malam (25/03) atau malam kamis kemaren.

Hujan yang dihiasi angin dan kilat bercahaya mengepung kota Solo. Ada apakah sebenarnya, sehingga Sang Pemelihara menunjukkan kuasa Nya di atas kota Solo? Atau kota Solo hanya mendapatkan akibat dari perbuatan orang-orang di kota lain? (semoga tidak…)

Instropeksi diri yuk… kenapa sampai terjadi hal yang seperti itu. Apakah karena kita melakukan kejahatan (Na’udzubillah) yang menurut Allah, kejahatan yang kita lakukan itu pantas diberi sedikit pelajaran supaya kita sadar? atau apa?

Sayyidina Umar bin Al-Khaththab sewaktu menjadi Khalifah, suatu waktu mendengar terjadinya musibah di suatu daerah kekuasaannya. Beliau segera turun ke lapangan melihat tempat bencana. Beliau heran kenapa bisa terjadi bencana di wilayah Islam, padahal beliau merasa sudah menjalankan pemerintahan dengan baik, adil, dan dengan Syari’at Islam.

Maka ketika beliau sampai di daerah tersebut, beliau mengumpulkan penduduk daerah tersebut.

Apa gerangan yang dikatakan oleh Sayyidina Umar kepada penduduk daerah tersebut? apakah beliau mengatakan: “Sabar… musibah ini bertanda bahwa Allah mencintai kalian” Tidak! Sayyidina Umar tidak menghibur rakyatnya yang sedang tertimpa bencana dengan perkataan yang muluk-muluk. Beliau tidak bertanya berapa milyar kerugian yang diakibatkan oleh musibah tersebut. Beliau juga tidak bertanya berapakan korban yang jatuh akibat bencana tersebut. TIDAK!!!!

Beliau bertanya kepada para penduduk: “Wahai rakyatku! Dosa apa yang telah kalian perbuat sehingga Allah marah kepada kalian?! Dosa apa yang telah kalian kerjakan sehingga datang musibah seperti ini?!”

Kenapa Sayyidina Umar bertanya yang demikian itu? Karena Sayyidina Umar yakin bahwa bencana yang ditimbulkan pada waktu itu  hanya bisa terjadi akibat kejahatan/maksiat yang diperbuat oleh penduduk daerah tersebut. Kenapa begitu? Karena Sayyidina Umar telah memerintah, telah menjalankan roda pemerintahannya dengan baik. Dengan aturan Islam. Yang bersalah dihukum dengan hukuman yang telah diundang-undangkan oleh Allah dan Rasul Nya. Orang yang mabuk, dihukum dera. Orang yang berzina, selingkuh, melakukan seks dengan orang yang tidak halal untuk itu, maka jika si pelaku masih bujang/gadis, belum pernah menikah, hukuman yang diterima ialah didera 100 kali kemudian diasingkan selama setahun penuh; akan tetapi, apabila si pelaku itu merupakan orang yang berstatus suami/istri orang lain atau pernah menikah, maka hukumannya ialah dirajam/dilempar batu sampai mati.

Kenapa bisa di negeri yang telah diperintah menurut apa yang dikehendaki Allah dan Rasul Nya bisa timbul bencana yang seperti itu?

Sayyidina Umar yakin seyakin-yakinnya akan Firman Allah Ta’ala yang berbunyi:

” Andai saja penduduk kota itu mau beriman dan bertakwa (kepada Allah), niscaya Kami (Allah) akan membukakan pintu barakah dari langit dan bumi kepada mereka; … “

Janji Allah dan Allah tidak akan menyelisihi janjinya.

Nah, sekarang mari kita instropeksi diri kita masing-masing. Dosa apa yang telah kita perbuat sehingga datang malam nightmare tersebut?

Jangan menuding orang lain, tuding dulu hidung sendiri…

Iklan

Hadits 2 dari 42 Hadits Arba’in, bag.4

Maret 26, 2009 pukul 1:18 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“… Lelaki itu kembali bertanya kepada Rasulullah: “Beritahu aku, apa yang dimaksudkan dengan IHSAN (kebaikan)?” Rasulullah menjawab: “AL-IHSAN itu ialah apabila engkau -ketika beribadah kepada Allah- seolah-olah melihat Nya, atau apabila engkau tidak dapat seolah-olah melihat Nya, maka yakinlah bahwa Dia selalu melihatmu …”

Pertanyaan berikutnya yang dilontarkan oleh Jibril yang menyarukan dirinya sebagai manusia biasa, yaitu tentang IHSAN atau kebaikan.

Rasulullah bersabda bahwa IHSAN itu ialah ketika seseorang itu sedang beribadah, maka seakan-akan dia sedang melihat Allah, berhadap-hadapan langsung dengan Nya. Andaikata orang itu kesulitan untuk mengkondisikan dirinya sedang berhadap-hadapan dengan Nya, maka orang tersebut harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa Allah melihatnya, melihat seluruh perbuatannya, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maupun secara terang-terangan.

Pelajaran yang dapat diambil dari tanya-jawab antara Jibril dan Rasulullah di atas ialah: bahwa Allah itu mengetahui segala perbuatan hamba Nya, sehingga seorang hamba yang pintar akan selalu menambah amal kebaikannya, dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi amal keburukannya.

Seorang hamba yang cerdik tentu akan berusaha agar majikannya menilai dirinya dengan nilai yang tinggi. Hamba tersebut tidak akan membikin nilai dirinya jatuh di hadapan majikannya.

Seorang hamba yang bijaksana akan selalu menampakkan kepada majikannya bahwa dirinya selalu bersungguh-sungguh dalam menjalan segala perintah majikannya; dan akan merasa amat sangat malu ketika dirinya dilihat oleh majikannya sedang bermalas-malasan atau sedang melanggar larangang majikannya.

Nah, mau  jadi hamba yang baik, cerdas, dan bijaksana, atau sebaliknaya?

Hadits 2 dari 24 Hadits Arba’in, bag.3

Maret 24, 2009 pukul 11:32 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“… Lelaki itu kembali bertanya, “Beritahulah aku apa itu iman?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat Nya, kepada Kitab-kitab Nya, kepada Utusan-utusan Nya, kepada Hari Akhir, dan kepada ketetapan Nya, baik ketetapan yang baik, maupun ketetapan yang buruk”. Lelaki itu berkata: “Engkau benar” … “

Pertanyaan kedua yang diajukan oleh malaikan Jibril yang menyaru sebagai manusia. Pertanyaan tersebut mengenai iman.

Rasulullah menjawab: “Keimanan itu ada pada seseorang ketika dia beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, utusan-utusan Nya, hari Akhir serta beriman kepada ketetapan yang baik, maupun ketetapan yang buruk”.

Beriman kepada Allah itu mengandung konsekwensi bahwa kita hanya menghambakan diri kepada Nya, memakai aturan-aturan Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau belum melakukan yang demikian itu, maka kita belum beriman, atau iman kita masih kelas teri.

Hadits 2 dari 42 Hadits Arba’in, bag. 2

Maret 23, 2009 pukul 10:53 pm | Ditulis dalam Iseng, R E N U N G A N, Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“… laki-laki itupun bertanya: “Wahai Muhammad! Beritahulah aku ini apa itu Al-Islam?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Islam itu ialah engkau bersaksi bahwa tiada yang pantas disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan engkau berhajji ke Baitullah jika engkau mampu menjalankannya. Laki-laki itu mengatakan: “kamu benar”. Kami (para sahabat) heran, laki-laki ini yang bertanya, lalu membenarkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam…”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Umar bin Al-Khaththab.

Pada kesempatan pertama, laki-laki itu bertanya kepada Rasulullah tentang Al-Islam. Rasulullah menjawab bahwa pokok Islam itu ialah bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, serta berhajji bagi yang mampu.

Ketika seseorang itu sudah menjalani minimal empat dari lima hal di atas, maka dia sudah dihitung sebagai seorang muslim.

Bersaksi bahwa tiada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad utusan Allah  itu mencakup mengambil segala keputusan Allah dan Rasul Nya, baik itu berupa perintah maupun larangan, sebagai pedoman hidup. Sebagai undang-undang.

Mendirikan shalat itu bukan sekedar kita mengangkat tangan sambil bertakbir hingga salam, tetapi juga mencakup cara berwudlu kita-apakah sudah benar dan sempurna?-, mencakup cara berpakaian kita-apakah sudah menutupi aurat?- dan tumakninah  dan kekhusyuan kita.

Membayar zakat itu mencakup membayarnya tepat waktunya, tanpa ngakal-akali agar zakat yang dikeluarkan tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

Berpuasa di bulan Ramadlan itu termasuk membayar zakat fitrah, paling lambat di malam satu Syawwal.

Berhaji itu dipersyaratkan adanya kemampuan finansial dan fisik. Karena, perjalan menuju baitullah itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, dan memerlukan fisik yang memadai untuk menjalankan stiap rukun dan syarat hajji.

Pelajaran yang dapat kita ambil ialah: seseorang itu dianggap seorang muslim apabila sudah menjalankan 4 dari 5 pokok Al-Islam. Menjalankannya dengan konsisten, kecuali jika ada udzur syar’i yang menghalangi kita untuk menjalankannya.

Bolehnya seseorang yang sudah tahu bertanya kepada orang lain dalam rangka menyebarkan ilmu kepada orang yang belum tahu.

Hadits 2 dari 42 Hadits Arba’in, bag.1

Maret 23, 2009 pukul 10:42 am | Ditulis dalam Iseng, R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“Tatkala kami duduk di sekeliling Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang tidak kami kenal. Laki-laki tersebut mengenakan pakaian berwarna putih cemerlang; rambut laki-laki tersebut juga hitam gelap. Tidak tampak adanya bekas perjalanan jauh dari orang tersebut. Dia mendekat kepada Rasulullah, kemudian menempelkan kedua lututnya kepada kedua lutut Rasulullah, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Rasulullah….” (bersambung)

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Umar bin Al-Khaththab.

Potongan hadits ini menjelaskan salah satu cara wahyu itu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu Jibril datang kepada beliau dengan menyerupai manusia yang amat sangat tampan.

Jibril juga mengajari adab seorang murid kepada gurunya, yaitu berusaha mendekat, mencari celah untuk dimasuki agar dapat duduk dekat dengan gurunya. Bukan malah menjauh. Hal ini dikuatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika melihat tiga orang yang datang terlambat menghadiri majlis ilmu beliau. Orang pertama mendekat, orang kedua memilih duduk di belakang, sedangkan orang ketiga malah ngeloyor pergi.

Orang yang duduk mendekat oleh Rasulullah disabdakan bahwa Allah pun mendekat kepadanya, sehingga ilmu itu mudah masuk kepadanya.

Orang yang memilih duduk di belakang oleh Rasulullah disabdakan bahwa Allah pun malu kepadanya, sehingga ilmu itu pun sulit masuk kepadanya.

Orang yang ngeloyor pergi itu oleh Rasulullah disabdakan bahwa Allah pun berpaling darinya, sehingga dia tidak mendapatkan ilmu, dan rahmat Allah Ta’ala.

Nah, habis tahu yang kayak gini nih.. besok lagi kalo hadir di majlis pengajian, pengajian apa saja, yang penting bukan pengajian sesat, buruan pilih tempat yang paling dekat dengan sang guru. Jangan alasan ‘lha wong aku telat te, mosok nyelonong maju’; supaya paham apa yang sang guru sampaikan sehingga ilmu itu masuk….

Hadits Pertama dari 42 Hadits Arba’in

Maret 22, 2009 pukul 10:27 pm | Ditulis dalam Iseng, Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung kepada niatnya, sedangkan bagi setiap orang itu balasan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang ketika melakukan hijrah itu diniatkan karena Allah dan Rasul Nya, maka pahala hijrahnya tersebut dari Allah dan Rasul Nya, akan tetapi barang siapa yang hijrahnya itu karena dunia yang hendak dicari, atau karena perempuan yang hendak dinikahi, maka pahala hijrahnya itu dari apa yang dia inginkan”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar bin Al-Khaththab.

Niat ketika beramal itu amatlah penting. Coba kalau nggak penting,  masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bakal bersabda begini? Ketika niat seseorang itu benar, ketika berbuat sesuatu dikarenakan Allah dan Rasul Nya, maka dipastikan dia mendapatkan pahala dari Allah; lha wong dia berbuat karena Allah, ya Allah pasti memberi ‘gaji’ kepadanya tho… kayak seorang buruh bekerja untuk si A, maka buruh tersebut akan mendapatkan gaji dari A, bukan dari saya atau anda.

Sebaliknya, ketika seseorang itu berbuat bukan karena Allah dan Rasul Nya, maka dia tidak mendapat pahala dari Allah, lha gimana mau mendapat ‘gaji’ dari Allah, lha wong dia itu beramal, memburuhkan diri bukan kepada Allah, lha kok mengharapkan ‘gaji’ dari Allah… kan lucu…. Kalau dia itu berbuat demi partainya, demi negaranya dll, ya njaluk ‘gaji’ ne nyang partai, negara dll nya tadi.

Oleh karena itu, yuk perbaiki niatan amalan kita….

Hasanah Istri Muda

Maret 18, 2009 pukul 11:05 pm | Ditulis dalam Cerita, Iseng, Senyum dong... | Tinggalkan komentar

Ada seorang laki-laki kaya raya, hartanya melimpah ruah, apa saja yang ia inginkan pasti bisa ia nikmati. Mobil canggih? Gampang…. Tinggal telepon koleganya, dalam satu jam sudah diantar. Rumah mewah? Itu soal kecil…. Di tiap kota ia punya.

Di Malaysia, Kanada, Afrika, atau di tengah samudra Hindia pun kalau ia mau, ia bisa beli dengan hartanya yang bertumpuk… dengan harta itu pula lelaki kaya ini bisa mempersunting dua istri cantik dan menawan. Istri pertama bernama Azizah, yang kedua bernama Hasanah.

Nama sih islami, tapi untuk soal ibadah dan ilmu agama, mereka berdua sama seperti sang suami, tak ngerti sama sekali. Shalat kagak pernah. Paling sekali dua kali, kalau diajak tetangga sebelah, itu juga nggak tau harus berdoa apa… mereka pun jentat-jentit sekenanya… yang penting jaga harga diri, biar nggak dianggap lupa agama. Musim haji pun tiba. Sang suami gak mau dipermalukan oleh tukan becak sebelah, yang mampu berangkat haji.

Akhirnya, bermodal harta, ia pun “bertamasya” ke negeri onta, Makkah Al-Mukarramah. Tak tanggung, dua istrinya diajak pula untuk menunaikan rukun Islam kelima, katanya. Di sana, ia dan dua istrinya hanya bisa ikut-ikutan apa yang jamaah haji alainnya lakukan. Hingga giliran thawaf, mereka turut mengelilingi Ka’bah.

Namun, tak ada doa yang bisa ia ucapakan. Suara talbiyah jamaah haji pun sulit untuk ditiru. Tapi, sang suami teringat dengan sebuah doa yang pernah diajarkan guru ngajinya waktu kecil. Biar pun ia tak faham artinya, yang penting ia bisa turut bercuap-cuap.

Rabbana atina fid dun ya hasanah wa fil akhirati hasanah. Putaran pertama ia melantunkannya dengan khusyuk sambil menggandeng dua istrinya.

Putaran kedua Rabbana atina fid dun ya hasanah wa fil akhirati hasanah .

Putaran ketiga, Rabbana atina fid dun ya hasanah wa fil akhirati hasanah, istri pertama mulai tak tenang.

Putaran keempat Rabbana atina fid dun ya hasanah wa fil akhirati hasanah, istri pertama, Azizah menyikut sang suami, “Mas…! Kenapa sih dari tadi Hasanah melulu yang disebut-sebut… apa karena dia istri muda, lebih cantik, lebih …, lebih…” terjadilah percekcokan sedikit di depan baitullah itu.

Dengan bijaksana, sang suami menenangkannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Mereka melanjutkan putaran kelima, sang suami dengan percaya diri melantunkan Rabbana atina fid dun ya Hasanah wa fil akhirati Azizah ( biar adil, batinnya).

Putaran keenam ia ulangi. Setelah putaran berakhir, mereka bertiga dikeluarkan oleh security Masjidil Haram, karena dianggap menyebarkan ajaran sesat… capek deh…

Orang Beriman bag.3

Maret 13, 2009 pukul 10:33 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tarbiyah, Tips, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Seorang Beriman itu:

Harus tunduk kepada Allah dan Rasul Nya. Baik dengan menjalankan segala perintah Keduanya, maupun menjauhi segala larangannya.

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat An-Nisa’ (4):59

Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kalian kepada Rasul Nya, serta kepada orang-orang yang memegang urusan di antara kalian. Apabila kalian berselisih di dalam suatu hal, maka kembalikanlah hal tersebut kepada (hukum) Allah dan Rasul Nya jika kalian itu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian (pengembalian segala urusan kepada hukum Allah dan Rasul Nya) itu merupakan sebaik-baik dan sebagus-bagus akibat”

Ayat di atas mengandung tiga pelajaran.

Pelajaran Pertama; Ketaatan kepada Allah dan Rasulnya itu bersifat mutlak. Ketaatan kepada keduanya itu mencakup segala hal yang tersurat maupun tersirat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Entah ketaatan kepada keduanya itu bisa dicerna oleh akal kita, atau tidak. Sebab, akal kita ini ada batasnya. Mungkin saja, akal kita saat ini belum bisa mencerna kenapa Allah dan Rasul Nya memerintah begini, atau melarang begitu; akan tetapi, suatu saat kelak, Allah akan memberikan kemampuan bagi kita untuk melihat hikmah di balik perintah maupun larangan yang dulunya tidak bisa kita cerna.

Yang diminta dari kita ialah ketaatan kita kepada Allah dan Rasul Nya. Seperti halnya seorang prajurit kepada komandannya, atau seorang kawula kepada junjungannya. Allah dan Rasul Nya tidak akan meminta kita untuk mengerjakan sesuatu di luar kemampuan kita. Sebab, Allah sudah berjanji di dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah (2):286

Allah tidak membebani suatu diri kecuali menurut kemampuannya

Subhanallah; betapa Maha Pengasihnya Allah! Kita melakukan apa yang Dia perintahkan semampu kita, tetapi balasan yang kita terima berlipat-lipat ganda nilainya dari perbuatan kita yang pas-pasan.

Pelajaran Kedua; Ketaatan kepada Ulil Amri atau orang yang memegang urusan muslimin ini bersifat terbatas. Terbatas, karena ketaatan ini hanya berlaku pada perkara-perkara yang tidak melanggar perintah atau larangan Allah. Begitu juga ketaatan ini berlaku pada perkara-perkara yang tidak merubah hukum Allah. Selagi perintah itu melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, maka tidak ada kewajiban untuk mentaati ulil amri tersebut.

Seorang ulama memang diperbolehkan memberi fatwa pada hal-hal menyangkut kemaslahatan muslimin secara umum. Biasanya fatwa seorang ulama itu bersifat temporer, terkait oleh waktu, keadaan, dan tidak mengikat; karena mungkin saja fatwa itu akan berubah dengan berubahnya waktu. Fatwa ulama selalu berputar pada masalah mu’amalah dan furu (cabang), bukan ibadah dan ashl (pokok). Sebab, masalah ibadah dan ashl itu sudah ada aturannya dari Allah dan Rasul Nya. Manusia tinggal mengikut saja; tidak boleh mengada-ada, atau mengira-ngira.

Terlebih lagi, mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang pemimpin (entah itu presiden atau perdana menteri) dikatagorikan sebagai ulil amri apabila dia memperhatikan kebutuhan ummat Islam, dan mengatur rakyatnya dengan aturan Islam. Oleh karena itu, ketika seorang pemimpin tidak mengayomi ummat Islam dan tidak mengatur negaranya dengan aturan Islam, maka dia tidak dikatagorikan sebagai ulil amri, yang dengan sendirinya pemimpin yang macam itu tidak ada kewajiban untuk taat kepadanya (maksud saya, mau taat tidak diganjar, nggak taat juga nggak berdosa; tetapi, kalau nggak taat kemudian ditangkap dan dipenjara itu masalah lain lho…).

Ketika seorang pemimpin dikatagorikan sebagai ulil amri, maka segala perintahnya (selagi tidak melanggar dan mengubah aturan-aturan Allah dan Rasul Nya) hukumnya wajib dikerjakan. Orang yang mengerjakan dapat pahala, sedangkan yang membangkang mendapat dosa.

Sebagai ilustrasi saja; sama-sama peraturan lalu lintas, kalau merah berhenti, kalau hijau jalan, apabila pemimpin negeri ini tergolong ulil amri, maka ketika lampu merah yang menyala akan tetapi tetap diterjang, maka si pelanggar mendapatkan dosa; sebaliknya, ketika pemimpin negeri ini bukan tergolong ulil amri, maka ketika lampu merah menyala itu diterjang, si penerjang tidak mendapatkan dosa. Paling-paling ketemu sama bapak Polisi.

Pelajaran ketiga; segala perselisihan di antara manusia itu harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul Nya. Dikembalikan kepada aturan-aturan keduanya yang terdapat di dalam Al-Qur’an danAs-Sunnah. Baik itu berupa urusan perdata, maupun pidana.

Panjang banget sih… yah hitung-hitung menyampaikan sedikit ilmu yang sempat mampir di telinga (he3x); sekaligus sebagai alasan bahwa ilmu yang saya dapat sudah saya sampaikan semampu saya.

Orang Beriman bag.2

Maret 9, 2009 pukul 10:31 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Segala sikapnya menghasilkan pahala Nggak percaya… ?! Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda:

“Sungguh mengherankan segala urusan yang berkaitan dengan seorang mukmin, karena setiap urusan yang berkaitan dengannya itu selalu bernilai kebaikan, sedangkan hal ini tidak akan terjadi pada diri orang yang tidak beriman; yaitu apabila dia mendapatkan kelonggaran/kesenangan dan bersyukur, maka hal tersebut dihitung sebagai kebaikan; dan apabila dia mendapatkan kesusahan dan bersabar, maka hal tersebut juga dihitung sebagai kebaikan”

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Nah, jadi orang mukmin itu enak kan. Dapat rizki lalu bersyukur, dihitung pahala; kena musibah walaupun hanya kecocok paku lalu bersabar, dihitung sebagai pahala. Lha kalau dapat rizki tetapi tidak bersyukur, atau terkena musibah tetapi tidak bersabar?

Ya… itu namanya belum dikatakan sebagai orang mukmin dong… Karena orang mukmin itu paling tidak sudah tahu (=mempelajari) Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui; sehingga nggak ada ceritanya seorang mukmin bikin-bikin peraturan: yang poligami dipenjara sekian bulan plus membayar uang! Bukankah poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah apalagi wajib dikerjakan. Nikah itu wajib bagi yang mampu, tapi poligami itu mubah (bolah-boleh saja). Walaupun boleh, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berpoligami. Apa itu? Kesiapan dirinya dan keluarga untuk menerima poligami, ini satu. Kedua, mempersiapkan diri untuk dapat berlaku adil semampunya. Kok semampunya?! Iya, semampunya, karena yang dapat berbuat adil seadil-adilnya itu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri merasa dirinya pun kurang berbuat adil di dalam masalah kecondongan hati, sampai beliau ketika membagi giliran kepada para Ummul Mukminin, isteri-isteri beliau; beliau berdoa (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa`i dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang konon didla’ifkan oleh Al-Albani):

“Adalah Rasulullah itu membagi giliran hari kepada para isteri beliau dan beliau berbuat adil, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Inilah pembagian yang kulakukan semampuku, maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau mampu lakukan sedangkan hal tersebut tidak dapat aku lakukan”

Para ulama sepakat: bahwa keadilan yang dituntut di dalam masalah poligami ialah keadilan di dalam masalah materi; hal ini wajib diusahakan oleh sang suami sebagai konsekwensi poligaminya; sedangkan keadilan hati itu diusahakan semampunya agar tidak condong hanya kepada salah seorang isterinya. Hukum kebolehan berpoligami itu kekal hingga hari Kiamat; tidak dapat diubah-ubah seenaknya sendiri. Yang dipermasalahkan sekarang ialah para pelaku poligaminya, berlaku adil nggak mereka kepada para isterinya?!

Kalau nggak bisa berlaku adil kenapa mesti berpoligami…. Sekali lagi, poligami tidak menjadi haram dilakukan hanya karena para pelakunya tidak bisa berbuat adil! Hukum poligami itu tetap boleh, akan tetapi para pelaku poligami itulah yang perlu ditatar ulang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga mereka mengetahui konsekwensi poligami. Kalau boleh diumpamakan: hal ini sebagaimana menyetir mobil ato sepeda motor. Menyetir mobil ato sepeda motorkan harus punya SIM. Nah…kalau ternyata kebanyakan pengendara mobil/sepeda motor itu tidak punya SIM, apa terus mobil/sepeda motor dilarang untuk dikendarai sama sekali?! Kan nggak tho… Yang dilarang kan Cuma yang nggak punya SIM, yang punya ya monggo terus. Kok nggak nyambung dengan subjudulnya? Ya nggak papa deh, sekali-kali nggak nyambung, hitung-hitung variasi githu… he3x .

Segala sikapnya menghasilkan pahala Nggak percaya… ?! Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda: “Sungguh mengherankan segala urusan yang berkaitan dengan seorang mukmin, karena setiap urusan yang berkaitan dengannya itu selalu bernilai kebaikan, sedangkan hal ini tidak akan terjadi pada diri orang yang tidak beriman; yaitu apabila dia mendapatkan kelonggaran/kesenangan dan bersyukur, maka hal tersebut dihitung sebagai kebaikan; dan apabila dia mendapatkan kesusahan dan bersabar, maka hal tersebut juga dihitung sebagai kebaikan” Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya. Nah, jadi orang mukmin itu enak kan. Dapat rizki lalu bersyukur, dihitung pahala; kena musibah walaupun hanya kecocok paku lalu bersabar, dihitung sebagai pahala. Lha kalau dapat rizki tetapi tidak bersyukur, atau terkena musibah tetapi tidak bersabar? Ya… itu namanya belum dikatakan sebagai orang mukmin dong… Karena orang mukmin itu paling tidak sudah tahu (=mempelajari) Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui; sehingga nggak ada ceritanya seorang mukmin bikin-bikin peraturan: yang poligami dipenjara sekian bulan plus membayar uang! Bukankah poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah apalagi wajib dikerjakan. Nikah itu wajib bagi yang mampu, tapi poligami itu mubah (bolah-boleh saja). Walaupun boleh, tetapi masih ada syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berpoligami. Apa itu? Kesiapan dirinya dan keluarga untuk menerima poligami, ini satu. Kedua, mempersiapkan diri untuk dapat berlaku adil semampunya. Kok semampunya?! Iya, semampunya, karena yang dapat berbuat adil seadil-adilnya itu Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri merasa dirinya pun kurang berbuat adil di dalam masalah kecondongan hati, sampai beliau ketika membagi giliran kepada para Ummul Mukminin, isteri-isteri beliau; beliau berdoa (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa`i dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang konon didla’ifkan oleh Al-Albani): “Adalah Rasulullah itu membagi giliran hari kepada para isteri beliau dan beliau berbuat adil, kemudian beliau berdoa: Ya Allah! Inilah pembagian yang kulakukan semampuku, maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau mampu lakukan sedangkan hal tersebut tidak dapat aku lakukan” Para ulama sepakat: bahwa keadilan yang dituntut di dalam masalah poligami ialah keadilan di dalam masalah materi; hal ini wajib diusahakan oleh sang suami sebagai konsekwensi poligaminya; sedangkan keadilan hati itu diusahakan semampunya agar tidak condong hanya kepada salah seorang isterinya. Hukum kebolehan berpoligami itu kekal hingga hari Kiamat; tidak dapat diubah-ubah seenaknya sendiri. Yang dipermasalahkan sekarang ialah para pelaku poligaminya, berlaku adil nggak mereka kepada para isterinya?! Kalau nggak bisa berlaku adil kenapa mesti berpoligami…. Sekali lagi, poligami tidak menjadi haram dilakukan hanya karena para pelakunya tidak bisa berbuat adil! Hukum poligami itu tetap boleh, akan tetapi para pelaku poligami itulah yang perlu ditatar ulang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga mereka mengetahui konsekwensi poligami. Kalau boleh diumpamakan: hal ini sebagaimana menyetir mobil ato sepeda motor. Menyetir mobil ato sepeda motorkan harus punya SIM. Nah…kalau ternyata kebanyakan pengendara mobil/sepeda motor itu tidak punya SIM, apa terus mobil/sepeda motor dilarang untuk dikendarai sama sekali?! Kan nggak tho… Yang dilarang kan Cuma yang nggak punya SIM, yang punya ya monggo terus. Kok nggak nyambung dengan subjudulnya? Ya nggak papa deh, sekali-kali nggak nyambung, hitung-hitung variasi githu… he3x .

Orang Beriman itu Bag.1

Maret 9, 2009 pukul 10:20 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tahukan Anda ..., Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Segala perbuatannya bermanfaat

Manfaat di sini ialah manfaat yang akan didapatkan di dunia dan akherat; karena seorang mukmin seharusnya menjadikan misi dan visinya untuk meraih kebahagiaannya di akherat. Bagaimana dengan kebahagiaan dunia? Kebahagiaan dunia akan didapat secara otomatis ketika yang dituju itu kebahagiaan akherat. Hal ini sudah diisyaratkan oleh Allah dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Allah berfirman di dalam surat Asy-Syura (42): 20

Barang siapa yang menghendaki tanaman Akherat, niscaya Kami (Allah) tambahi pada tanamannya, dan barangsiapa yang menghendaki tanaman dunia, niscaya Kami (Allah) akan memberikannya (apa yang dia minta), sedangkan di Akherat kelak dia tidak memiliki bagian sama sekali

Ayat ini membicarakan tentang orang yang beramal untuk Akherat dan yang beramal untuk dunia. Orang yang beramal untuk Akherat akan mendapatkan bantuan dari Allah dalam memperbanyak amalan untuk akheratnya, termasuk penghidupan dunianya. Sebaliknya, ketika seseorang beramal untuk dunianya saja, tanpa memperdulikan Akherat, maka Allah tidak akan memberikan ganjaran terhadap amalannya tersebtu di Akherat kelak, sedangkan di dunianya pun dia belum tentu mendapatkan apa yang dia inginkan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir; Surat Asy-Syura (42): 20.

Diriwayatkan di dalam Sunan At-Turmudzi dan Sunan Ibnu Majah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua matanya, serta hanya diberi dari kehidupan dunia ini yang menjadi bagiannya; sedangkan barangsiapa yang menjadikan Akherat sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan segala urusannya terpenuhi, menjadikan rasa berkecukupan di dalam hatinya, serta dunia itu dijadikan mendatanginya, padahal dunia itu merupakan hal yang remeh

Nah, yang segala amalannya untuk kehidupan Akherat, dunia pasti didapatkannya, sedangkan yang segala amalannya untuk dunia, dunianya belum tentu didapat; akheratnya sudah dipastikan lepas.

Seorang mukmin yang bijaksana tentu akan memprioritaskan Akheratnya, karena rizki dunia itu sudah ditentukan oleh Allah ketika manusia masih berada di dalam rahim ibunda. Selagi manusia itu masih bisa bernafas, maka dipastikan bagian rizkinya di dunia ini masih ada, akan tetapi, ketika bagian rizki seseorang yang ditetapkan itu sudah habis, maka hal itu bertanda waktu hidup orang tersebut sudah habis, alias dia harus mati.

Jadi, jangan pernah khawatir kehabisan bagian dunia; sebab bagian dunia seseorang yang sudah ditetapkan itu tidak akan lari kepada orang lain. Misalnya: Kalau ketetapan saya bulan ini dapat uang satu juta dari bung Shodiq, tanpa harus sering memberi posting untuk tulisan bung Shodiq, pasti saya akan mendapatkan uang tersebut (mohon maaf beribu maaf ya bung Shodiq, ini cuma contoh lho…he3x); tetapi sebaliknya, jika hadiah tersebut bukan ketetapan rizki saya, walaupun pada setiap postingan di blognya bung Shodiq diberi komentar (tidak hanya satu komentar, mungkin minimal 3-4 komentar pada setiap postingan), pasti uang satu juta bulan ini tidak akan sampai kepada saya (betul nggak..J).

So, beramal untuk akherat yuk……..

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.