Semuanya Berpahala…

Februari 23, 2009 pukul 4:04 am | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Ingin nggak, kita digaji secara besar-besaran?!. Maksudku, kita digaji karena segala perbuatan kita, sampai menggerakkan tangan pun digaji?! Mau? Ah.. masa ada yang mau memberi kita gaji seperti di atas?

Ada kok yang mau menggaji kita dengan sebab perbuatan kita. Perbuatan apa saja (asalkan tidak maksiat) yang kita lakukan akan mendatangkan gaji. Hanya saja, gajinya baru bisa diambil secara komplit di akherat kelak; sedangkan di dunia hanya bisa diambil sedikit-sedikit.

Sudah tahu kan siapa yang akan menggaji kita? Yup, Allah lah yang akan menggaji kita dengan sebab segala perbuatan yang kita lakukan (sekali lagi, segala perbuatan asalkan bukan maksiat).

Kok bisa?

Baik, kita bahas kenapa kita bisa dapat pahala yang demikian banyak.

Allah di dalam Al-Qur’an berfirman:

وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ ( الذاريات : 56)

“Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia kecuali dengan tujuan supaya mereka menyembah Ku.” Surat Adz-Dzariyat (51) : 56.

Ayat di atas menerangkan bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia ialah supaya mereka beribadah kepada Allah, bukan selain Nya. Nah, oleh karena itu, seyogyanya segala perbuatan kita di dunia ini kita jadikan bernilai ibadah.

Bagaimana caranya?

Caranya ialah kita melakukan sesuatu itu dengan niat karena Allah Ta’ala, entah itu dengan mengerjakan perintah Allah, atau menjauhi larangan Nya; baik yang tercantum di dalam Al-Qur`an, ataupun yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Jika kamu pelajar, niatkan bahwa kamu menuntut ilmu karena Allah memerintahkan agar manusia ini menuntut ilmu; niscaya setiap langkahmu, mulai dari berangkat ke sekolah, segala aktifitas kamu di sekolah, sampai kamu kembali masuk ke dalam rumah sekembali dari sekolah, Insya Allah, akan dinilai sebagai pahala.

Jika kamu pekerja, niatkan bahwa kamu bekerja karena Allah memerintahkan agar manusia mencari karunianya di bumi ini; maka segala langkahmu, segala aktifitasmu, semuanya –Insya Allah- akan bernilai pahala.

Mudah bukan? Asalkan kamu tidak berbuat maksiat, tidak riya` alias pamer; kamu pasti diganjar Allah.

Tentunya pahala di atas hanya akan didapatkan oleh orang yang beragama Islam. Bukannya saya rasis lho… saya hanya mengutip Firman Allah di dalam surat Ali Imran (3): 85

وَ مَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ ، وَ هُوَ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ (آل عمران : 85)

“Dan barangsiapa yang memaukan selain Al-Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya (segala amalannya), sedangkan dia di Akherat kelak termasuk dari orang-orang yang rugi.”

Lha kalau perbuatannya itu tidur, makan, minum atau buang hajat? Sama saja, asalkan semua perbuatan itu diniatkan karena Allah, maka dia mendapatkan pahala. Jangankan cuma makan, minum dan tidur; bagi yang sudah berkeluarga, ketika seseorang mengumpuli isterinya pun juga dihitung pahala; jika hal itu diniatkan untuk menjalankan perintah Allah. Hal ini sebagaimana yang tersurat dalam dialog antara Rasulullah:

… وَ فِى بُضْعِ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ . قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ الله ! أَ يَأْتِى اَحَدُنَا شَهْوَتَهُ فَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا اَجْرٌ ؟ ، قَالَ : أَ رَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ ، أَ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟! وَ كَذَالِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى حَلاَلٍ كَانَ لَهُ أَجْرٌ.

“… dan di dalam perut (memenuhi syahwat) salah seorang di antara kalian itu (dihitung) shadaqah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah seseorang di antara kami ketika melampiaskan syahwatnya (mengumpuli isteri) juga mendapatkan pahala?” Rasulullah bersabda: “Bagaimana pendapat kalian, apabila seseorang melampiaskan syahwatnya pada perbuatan yang haram, apakah dia mendapatkan dosa?! Dan seperti itu pula, apabila seseorang melampiaskan syahwat pada perbuatan yang halal, maka dia mendapatkan pahala.”

Subhanallah! Betapa murahnya Allah memberikan pahala kepada hamba-hamba Nya yang beriman! Belum lagi satu kebaikan yang dilakukan hamba Nya itu dihitung oleh Allah seakan-akan hamba tersebut telah melakukan minimal 10 kebaikan; maksimalnya? Ya terserah Allah dong…; hal ini berbeda dengan dosa. Satu dosa yang dilakukan hamba Nya itu hanya dihitung satu kejelekan oleh Allah.

Oleh karena itu, orang yang berat dosanya mengalahkan beratnya kebaikan itu adalah orang yang benar-benar bodoh, dungu dan kata-kata yang sejenis.

Wallahu a’lam bish Shawwab.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bila kita nge-blog, ini pun karena Allah, bukan?
    iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: