Antara Reward dan Punism

Februari 20, 2009 pukul 6:00 am | Ditulis dalam R E N U N G A N, Tarbiyah, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Dunia pendidikan Indonesia semakin maju. Hanya amat disayangkan, kemajuan itu hanya mencakup masalah intelgensia saja, tanpa menyentuh sisi emosional murid.

Karena ini pula, sering didapati seorang guru hanya memberi reward (pujian/penghargaan) kepada murid yang pintar atau berprestasi; sedangkan kepada murid yang bodoh atau kurang berprestasi sang guru menyalahkan si murid dan membanding-bandingkannya dengan murid yang pintar.

Seorang guru tidak seharusnya melupakan bahwa kecerdasan murid itu berbeda-beda. Ada yang memang sejak lahir ditakdirkan sebagai seorang yang jenius; tetapi ada pula yang ditakdirkan dengan Intelgensia pas-pasan bahkan kurang. Seorang guru seharusnya arif dan bijaksana dalam mengayomi semua muridnya. Tidak hanya kepada mereka yang pintar saja, tetapi kepada mereka yang bodoh pun sang guru harus menunjukkan penghargaan atas usaha mereka dalam memperoleh hasil belajar.

Sebagai ilustrasi, dua orang murid, yang satu pintar dan yang satu bodoh. Murid yang pintar mendapatkan nilai 8 ke atas, sedangkan murid yang bodoh mendapatkan nilai 6. Biasanya sang guru akan memberikan pujian kepada murid yang pintar karena mendapatkan nilai 8 ke atas. Lalu terhadap murid yang bodoh? biasanya guru akan menegur murid tersebut kenapa bisa mendapatkan nilai 6? padahal temannya yang pintar itu mendapatkan nilai 8 ke atas?

Di sinilah yang hendak saya gugat! Bukankah seharusnya guru memberi penghargaan kepada murid yang bodoh karena mendapatkan nilai 6?! Dengan kebodohannya, si murid sudah berusaha keras untuk belajar sehingga mendapatkan nilai 6. Hal ini tentu saja tidak bisa disamakan dengan murid yang pintar; yang mungkin tanpa belajar untuk persiapan menghadapi ujian pun murid pintar ini pasti mendapatkan nilai 8 ke atas.

Menghargai kesungguhan murid dalam belajar, bukan menghargai nilai yang didapat. Inilah yang inti tulisan semrawut di atas. Seorang guru yang bijak, tentu memilih untuk memberikan reward dan punism berdasarkan kesungguhan yang dilakukan murid; sehingga murid pun akan merasa bahwa usahanya itu dihargai; walaupun nilai yang dia dapatkan mungkin sangat jelek.

Wallahu a’lam bish Shawwab.

PS: Terima kasih (Jazakumullahu khairan) kepada kang Habib atas dialognya, yang menjadi sumber inspirasi tulisan ini.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: