Tidak Akan Menyerah Tanpa Bertempur

Januari 19, 2009 pukul 10:08 am | Ditulis dalam R E N U N G A N, S A L A M kenal, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Hari-hari ini perang antara Israel-Palestina mengendur. Gencatan senjata sepihak yang diumumkan oleh Israel kemaren seakan mendapat sambutan dari Hamas. Apa pun yang ada di benak kedua belah pihak yang sedang bersengketa ini, ada hal penting yang harus disyukuri, yaitu tertolongnya korban-korban perang yang selama ini tidak terurus dengan baik akibat blokade Israel.

Mungkin, Militer Israel maupun Hamas bisa mempersegar kekuatan dengan gencatan senjata ini. Ya, mempersegar kekuatan, karena pertempuran antara kedua belah pihak pasti akan terjadi lagi, entah kapan.

Siapa yang salah? Siapa yang betul?

Di berbagai postingan tulisan yang beredar di Internet, banyak membela Palestina dan mengatakan bahwa Israel adalah agresor. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa Israel berhak melindungi diri dari serangan yang mengganggu “wilayah”nya.

Sengaja, saya memberi tanda petik pada kata wilayah, karena sejarah mencatat bangsa Israel sudah terusir keluar dari Palestina sejak zaman dahulu. Bangsa yang terusir ini berdiaspora ke berbagai belahan dunia, dan sialnya selalu menjadi biang kerok kehancuran bangsa yang disinggahi, terutama dalam masalah ekonomi. Sehingga, Bangsa Israel diibaratkan oleh beberapa penulis Internasional sebagai bangsa lintah peminum darah.

Palestina, memang menjadi ajang rebutan bagi agama-agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam). Perang Salib merupakan tulisan sejarah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Silih berganti, Palestina jatuh di antara Pasukan Islam dengan Pasukan Kristen, tapi tidak ada Pasukan Yahudi.

Yah.. karena pada waktu itu, Yahudi belum memiliki pasukan. Mereka hanya merupakan bantuan bagi ke dua belah pihak yang bertikai.

Hingga, ketika Jerman dengan Partai Nazi Hitler memberangus orang-orang Yahudi di Eropa, yang menyebabkan timbulnya perang dunia ke-II, dan berbuntut pada bertekuk lututnya Jerman di bawah kekuasaan tentara Sekutu. Israel memanfaatkan momentum tersebut untuk meminta tanah yang akan digunakan mendirikan negara Zionis Israel. Inggris, sebagai negara yang dimintai oleh Israel, memberikan tanah jajahannya di Benua Afrika. Hanya Israel menolak dan memilih tanah di Timur Tengah, tepatnya Palestina.

Sejak saat itulah, penggusuran warga Arab yang telah mendiami Palestina dimulai. Dengan berbagai macam cara, Israel berusaha membersihkan Palestina dari orang-orang Arab penghuninya, dengan dalih bahwa Palestina merupakan tanah yang dijanjikan untuk mereka.

Kelakuan mereka ini melupakan sejarah bagaimana Ummat Islam melindungi hak-hak bangsa Yahudi ketika Ummat Islam menaklukkan Palestina. Bagaimana kelonggaran yang diberikan oleh Ummat Islam ini kepada mereka.

Mereka juga lupa, bahwa TANAH YANG DIJANJIKAN ini pernah mereka tolak! Ketika Nabi Musa mengajak bangsa Israel untuk menaklukkan tanah yang dijanjikan ini, mereka enggan. Bahkan mereka menjawab: “Wahai Musa, Kami tidak akan memasuki tanah ini, sampai mereka meninggalkannya.” yang kemudian mereka susuli dengan perkataan: “Wahai Musa, berangkatlah kamu berperang bersama Tuhanmu, sedangkan kami di sini akan duduk-duduk menanti kabar!” .

Sungguh suatu perkataan kurang ajar. Hal ini berakibat tanah itu diharamkan atas bangsa Israel selama 40 tahun (menurut Al-Qur’an). 40 tahun yang bagaimana? Hanya Allah lah yang tahu.

Perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel ini pun dapat saya benarkan. Kenapa? karena rakyat Palestina diserang oleh Israel secara membabi buta, sehingga mau tak mau, rakyat Palestina harus mengadakan perlawanan sebagimana yang Agama mereka ajarkan:

Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya, maka dia termasuk mati syahid.

Saya rasa, lirik lagu yang disusun oleh Michael Heart itu ada benarnya:


We will not go down
In the night,
without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Saya merasakan semangat pembelaan di lirik ini. Tidak ada rasa ingin menyerah tanpa bertempur… Bertempur membela tanah mereka.

Suatu Sore di Solo,

19 Januari 2009

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: