Kekecewaan Ummat ini

Januari 13, 2009 pukul 10:09 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Uneg-uneg | 1 Komentar

Masa kampanye sudah dekat. Parpol peserta pemilu 2009 mulai mengampanyekan visi-misi mereka. Entah itu perbaikan ekonomi, perbaikan pendidikan, pemberantasan korupsi dan sebagainya.
Hanya saja, masyarakat, khususnya ummat Islam, sepertinya sudah mulai apatis terhadap slogan yang diusung oleh parpol; terlebih-lebih ummat Islam sebagai penghuni mayoritas Negara Indonesia yang tercinta ini.
Ummat Islam ini kecewa terhadap kinerja parpol-parpol Islam yang ada ini. Inti kekecewaan ummat sebenarnya terletak pada jurang perbedaan pemahaman pola pikir antara Partai dan Ummat yang di bawah (awam). Partai terfokus pada “hukum” (ijtihad politik), sedang awam terpaku pada “etika”.
Apa beda hukum dengan etika? Sebagai Ilustrasi, jika seorang ulama dengan atribut keulamaannya bepergian di bulan Ramadlan, lalu makan siang di sebuah restoran; maka secara hukum, ulama ini tidak bersalah karena seorang yang bepergian itu diperbolehkan untuk tidak berpuasa, namun secara etika, hal ini sulit diterima oleh orang awam, karena ulama itu merupakan panutan.
Gambaran di atas inilah yang terjadi di tengah gerakan Partai-partai Islam yang disaksikan awam selama ini, yaitu:
1. Tatkala berbagai ormas Islam dan sejumlah partai Islam sedang mati-matian memperjuangkan pengembalian PIAGAM JAKARTA di DPR/MPR RI, justru ada partai Islam lain yang menggebu-gebu mementahkannya dengan dalih memperjuangkan PIAGAM MADINAH, dan seorang petinggi partai Islam lainnya memberi pernyataan bahwa piagam Jakarta adalah masa lalu, dan yang lainnya lagi menyatakan amandemen UUD 1945 sudah final. Secara Ijtihad Politik sah-sah saja, namun secara etika membingungkan orang awam.
2. Tatkala sejumlah Parti Islam telah sepakat membangun fraksi Islam di DPR?MPR RI sebagai wujud persaudaraan dan persatuan, tiba-tiba ada partai Islam yang lebih suka berkoalisi dengan partai lain dengan dalih reformasi. Secara ijtihad politik bisa dijelaskan, tetapi secara etika jelas mengagetkan awam.
3. Sejumlah partai Islam saat kampanye berteriak mengharamkan presiden wanita, tapi ketika mereka harus menggulingkan presiden pria dengan konsekwensi presiden wanita yang naik, mereka kerjakan juga dengan dalih “darurat”. Padahal mereka punya alternatif untuk memperjuangkan pemilu ulang, tapi kenyataannya tidak ada fomulasi perjuangan politik ke arah sana, bahkan mereka ikut bagi-bagi kue kekuasaan bersama presiden wanita yang semula mereka haramkan. Secara ijtihad politik bisa dipahami, tapi secara etika sulit diterima awan.
4. Sejumlah partai Islam saat kempanye berkomitmen hanya akan mengajukan caleg Muslim, namun kenyataannya mereka mengajukan caleg-caleg non muslim di sejumlah daerah dengan dalih terpaksa karena daerah mayoritas non-muslim, padahal di daerah tersebut masih ada orang Islam yang bisa dicalonkan. Secara ijtihad politik bisa didiskusikan, tetapi secara etika menghilangkan kepercayaan awam.
5. Ada politisi wanita senior dari partai Islam tidak pernah mengenakan busana muslimah sebagaimana mestinya, dia hanya mencukupkan diri dengan kebaya dan kerudung ala kadarnya, dallihnya Islam tidak boleh dipaksakan dan perlu tahapan dalam penerapannya, yang penting sopan. Secara ijtihad pollitik mungkin masih ada ruang debat, namun secara etika tidak mudah dimengerti oleh awam.
6. Ada petinggi partai Islam yang istrinya tidak berjilbab dan dipamerkan di depan awam secara terbuka, alasannya masih dalam proses dakwah. Secara ijtihad politik bisa dimengerti selawa dakwah terhadap istri tetap berjalan, namun secara etika membingunkan awam.
7. Saat sebagian Ormas Islam dan sebagian Partai Islam memperjuangkan pembubaran Ahmadiyyah, terlihat jelas bahwa sebagian Partai Islam yang lain tidak punya semangat untuk itu, kecuali hanya sekedar andil buat pernyataan di media, atau menyurati Presiden secara sembunyi-sembunyi, tanpa langkah konkrit yang menggigit. Bahkan ada Partai Islam yang tidak ambil bagian dalam aksi sejuta ummat untuk membubarkan Ahmadiyyah, kecuali sekedar pasang bendera dan spanduk serta membagi-bagi selebaran. Secara ijtihad politik bisa dipahami sebagai suatu strategi, tapi secara etika menyakitkan awam.
8. Saat berbagai Ormas Islam yang Anti Ahmadiyah dan Pro RUU APP berhadap-hadapan secara terbuka dengan aliansi kebangsaan untuk kebebasan berkeyakinan dan beragama (AKKBB) yang pro Ahmadiyah dan anti RUU APP, justru ada partai Islam yang memberi penghargaan kepada sejumlah tokoh AKKBB. Secara Ijtihad Politik masih bisa dinegosiasikan, tetapi secara etika menyakiti perasaan awam.
9. Saat ada kepentingan Partai atau agenda Partai yang diusung dirugikan, Partai tersebut malkukan aksi unjuk rasa dengan ratusan ribu manusia; namun, tatkala ada kepentingan ummat atau agenda penting ummat yang mesti diusung, mereka enggan menurunkan seorangpun dari massa mereka. Secara Ijtihad politik bisa dimaklumi karena adanya rambu-rambu politik, namun secara etika sangat mengecewakan awam.
10. Saat berbagai Ormas Islam ingin menyalurkan aspirasi melalui DPR RI, terkadang sulit menemui para sahabanya dari kalangan Partai Islam, bahkan ada yang enggan menerima karena menganggap bukan dari “kelompok”nya. Padahal, Ormas-ormas Islam inilah penyumbang suara terbesar bagi Partai-partai tersebut di dalam pemilu. Hal ini boleh dikatakan Ijtihad Politik, tapi hal ini tidak dapat dimengerti oleh awam.

Aneka fakta di atas, kiranya cukup membuat awam menilai bahwa partai Islam sama dengan Partai sekuler lainnya, bahkan ada yang menilai bahwa Partai Islam hanya jualan Islam, sehingga awam tidak merasa ada beban untuk meninggalkan Partai Islam. Ketidakmengertian awam terhadap strategi dan trik politik Partai Islam membuat mereka kebingungan, sehingga tidak heran jika terjadi peningkatan apatisme politik di kalangan awam terhadap Partai Islam. Jangankan awam, terkadang elite Ormas Islam saja kebingungan menafsirkan manuver politik Partai-partai Islam. Inilah yang mendorong awam tertarik dengan sikap tidak menggunakan hak pilih alias GOLPUT (Golongan Putih).
Sungguh tidak arif, jika kita menyalahkan awam, apalagi sampai membodoh-bodohkan mereka. Dengan jujur harus kita akui bahwa awam ini kelompok yang lugu dan polos, dan harus diakui pula bahwa awam inilah “Pemilih” yang sangat menentukan sehingga mereka wajib dihargai dan dihormati.
Dan sangat tidak bijak, jika kita tiba-tiba menakut-nakuti awam dengan Fatwa GOLPUT haram hanya untuk kepentingan politik. Mestinya, Partai-partai Islam itu instropeksi diri, turun langsung dan Tanya aspirasi awam sebagai pemilih. Golputnya awam tidak sama dengan Golputnya para Oportunis Politik. Awam memilih Golput karena mencari kebenaran untuk ditegakkan, sedang Golputnya Oportunis politik itu karena mencari pembenaran untuk kepentingan.

Disunting dari Suara Islam
Edisi 57, 19 Desember 2008

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Download Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
    Al-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
    Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
    Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.ziddu.com/download/3082887/Al-QuranProVer.3.0.exe.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: