EQ v IQ

Januari 11, 2009 pukul 3:29 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, S A L A M kenal, Triks dan Intriks, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Masih ingat kita pernah membahas tentang mana yang kita pilih, IQ tinggi dengan EQ rendah atau sebaliknya?

Nah di sini, saya ingin kembali berbagi tentang masalah di atas. Saya termasuk yang memilih EQ tinggi tapi IQ rendah (walaupun sebenarnya sih aku inginnya IQ tinggi dan EQ jempolan he..he..he..)

Orang yang berEQ tinggi lebih bisa diterima di Masyarakat, karena masyarakat lebih menyukai orang yang sopan santun, bukan orang yang pintar.

Saya jadi ingat bait-bait lagu tentang akhlak atau sopan santun ini. Saya lupa siapa yang nyanyi [kalau ada yang tahu beritahu ya…🙂 ]. Berikut ini (kira-kira) baitnya:

Akhlak ialah bunga diri

Indah dilihat oleh mata

Senang di rasa oleh hati

setiap orang jatuh hati

Akhlak nilai diri manusia

Modal hidup di mana-mana

Semua orang pasti suka

Banyak kenalan murah Rizki

Orang yang berakhlak mulia

Semua orang pasti suka

Dia disayangi, dan dipercayai

Kawan banyak di mana-mana

Inilah kira-kira  bait yang masih nyantol di kepala saya. Coba diperhatikan; para Nabi terdahulu pun sebelum diangkat sebagai nabi adalah orang yang berakhlak mulia. Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi-nabi yang lain.

Di jaman sekarang, yang banyak mengandalkan akal [ terutama untuk menteri orang lain🙂 ] pun ketika membicarakan masalah jodoh, maka yang dijadikan patokan klise ialah “tidak apa-apa wajahnya jelek atau dia orang yang melarat, asalkan hatinya baik“. Hati yang baik hanya dimiliki oleh orang yang berakhlak baik; sedangkan akhlak yang baik hanya dapat diperoleh dengan mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bukankah Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam itu merupakan pribadi yang paling sempurna; yang Aisyah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah ialah Al-Qur’an? Bahkan sebelum beliau diangkat sebagai Nabi, beliau sudah terkenal dengan julukan Muhammad Al-Amin (Muhammad yang terpercaya).

Abu Bakar dan Umar pun memiliki gelaran yang menunjukkan ketinggian akhlak keduanya. Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq, yang artinya orang yang membenarkan (bisa juga diartikan orang yang jujur), sedangkan Umar mendapatkan julukan Al-Faruq (yang Membedakan). Jiwa yang bersihlah, yang dapat membedakan antara hak dan batil.

Saya sendiri berasumsi, kepintaran yang didasari dengan akhlak yang baik itu akan menciptakan pribadi yang baik pula. Sebaliknya, ketika akhlak itu didasari oleh kepintaran, maka yang ada ialah bagaimana kita bersikap yang akan menguntungkan kita, baik secara langsung, maupun tidak langsung.

So… bukankah Akhlaq yang baik (EQ) itu lebih baik daripada kepintaran yang setinggi langit (IQ)?! [ tentunya EQ tinggi dengan IQ rendah].

Bagaimana dengan pendirian anda?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: