Wani Ngalah

Januari 9, 2009 pukul 12:26 am | Ditulis dalam M Y F R I E N D S W O R D | Tinggalkan komentar

Pagi ini di jalan raya saat saya berkendara menuju kantor di jalanan sempat sedikit macet, saya bertanya-tanya kenapa jalanan macet, ternyata ketika saya bisa melewati sumber kemacetan tersebut berasal dari supir angkot dan pengemudi mobil sedang bertengkar, mungkin karena angkit berjalan semaunya, tetapi hal ini sudah wajar terjadi, mengapa orang yang mengemudi mobil tersebut tidak mengalah ya. menimbulkan pertanyaan dalam hati.

Saya pun sering melihat pertengkaran di rumah, dikantor, saat menjalankan bisni yang paling nyata adalah kasus Monas, dan perkelahian yang terjadi di Cilandak Townsquare, sebenarnya pertengkaran dan perbedaan pendapat bisa diselesaikan dengan sikap mengalah, Sikap mengalah memang bukanlah sikap yang populer untuk kehidupan kita ini. Justru orang yang mengalah sering kali orang yang diinjak, orang yang dirugikan, jadi akhirnya kita cenderung mengembangkan sikap tidak mau mengalah. Masalahnya sikap ini sering kali kita bawa ke dalam aspek-aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan bermasyarakat. penyebab Kita tidak mau mengalah adalah

1. kita merasa kita lebih tahu
Kita menganggap kitalah yang mengetahui kebenaran dan mengharapkan pihak yang satunya mengiakan pandangan kita. sifat dasar pengetahuan adalah sombong artinya kalau tidak hati-hati pengetahuan mudah sekali membuat orang sombong. Pengetahuan sejati bukanlah pengetahuan yang bersifat intelektual atau pengetahuan yang bersifat kognitif yakni dalam pikiran kita. Kita dianggap berpengetahuan jika kita mempunyai Mengerti dan Bijaksana

2. Kita merasa diri berhak,
kita dengan pendapat kita merasa yang paling berhak, berhak tidak sakit hati, berhak atas pemahaman kita, dan berhak atas yang lainya,Sebenarnya hak-hak yang paling baik adalah melepaskan hak pribadi untuk Kemaslahatan kita bersama.

3. Kita Mera Diri Paling Benar
Karena kita merasa lebih berpengetahuan, atau peningkatan ego kita yang luar biasa, atau kita memiliki kekuasaan yang lebih, maka kita merasa diri kita paling benar, sehingga kita sangat sulit untuk mengalah, walau kita tahu sebenarnya kita adalah salah

Kita sama-sama mengetahui bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah, bila kedua belah pihak selalu mau menang sendiri, tidak ada yang mau mengalah, maka pasti tidak akan berhasil dengan baik, bahkan selamanya tidak bisa membereskan masalah-masalah tersebut. Padahal dengan mengalah dapat menetralisir segala pertikaian, masalah besar akan menjadi kecil dan masalah kecil akan dinihilkan, suasana tegang akan berubah menjadi tenang damai. Mengalah juga menunjukkan kelapangan dada seseorang, juga memperlihatkan pandangan orang itu tidak sama dengan orang-orang pada umumnya.

Kita sering mengalami perbedaan pendapat atau keinginan dengan seseorang dalam hubungan interaksi sosial kita sebagai manusia, perbedaan pendapat atau keinginanĀ  tidak akan terjembatani hanya dengan perdebatan-perdebat an, apalagi diwarnai saling menyalahkan dan pemaksaan kehendak. Sikap saling menyalahkan dan pemaksaan kehendak hanya akan mengakibatkan sakit hati pada kedua belah pihak. Jalan keluar yang rasional dan manusiawi dari perbedaan pendapat atau keinginan justru adalah sikap “mengalah dalam pengertian yang benar”. Artinya, tidak memaksakan kehendak atau kesukaan diri sendiri, tetapi membiarkan diri mengikuti kehendak orang lain, demi terjadinya perubahan-perubahan rasional dan manusiawi (perbaikan-perbaika n) dalam diri sendiri maupun diri orang lain. Langkah ini memungkinkan terjembataninya perbedaan-perbedaan di antara mereka yang berbeda.

Perbuatan mengalah, walaupun kadang menyesakkan dada, tetapi lebih banyak membuahkan kebaikan ketimbang sikap bersikukuh menganggap diri sendiri benar. Mengalah juga merupakan pilihan sikap yang jauh lebih dewasa dan bijaksana, merendahkan hati dan mengalah menepis keegoisan dan rasa direndahkan atau meninggikan harga diri tak jarang merupakan jawaban dari rentetan kegalauan dan gejolak hati yang ingin selalu dimenangkan, coba berbicara sejenak dengan hati nurani. apa ruginya sih mengalah? toh hasilnya adalah perdamaian bukan…

Pernah dengar kata pepatah bijak “mengalah bukan berarti kalah”. Sifat mengalah dikatakan akan membawa berkah. Setidaknya, menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan. tetapi mengapa kita sulit dalam mengalah, hal itu disebabkan karena faktor ego yang besar dari manusia, yang selalu ingin menang dan juara. Karena ego manusia, kadang sifat mengalah malah membawa penurunan gengsi. Banyak orang beranggapan mengalah dikategorikan kalah, sehingga menurunkan gengsi. Padahal secara spiritual, mengalah sifat yang sangat mulia.

Banyak mengalah dan tidak bertengkar, menunjukkan kebesaran jiwa seseorang. Bisa memaafkan orang lain, juga menunjukkan intelektual seseorang. Pada umumnya setelah urusan terselesaikan dengan baik, lawan itu akan merasa menyesal atau menyalahkan diri sendiri.Maka apabila mengalami suatu permasalahan, bila bisa mundur selangkah, biarpun ini urusan yang ruwet, juga akan bisa diatasi dengan sempurna, dari pada harus bertahan dan akan menyebabkan kehancuran. Ayo kita biasakan diri kita mengalah, untuk mendapat kemenangan yang lebih besar bukan.

“wani ngalah luhur wekasane” (Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan)
Depok, 05 JUni 2008

http://erwinarianto .multiply. com/journal/ item/544/ Saya_akan_ mengalah_ karena_saya_ akan_menang

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: