Keluh Kesah

Januari 9, 2009 pukul 11:30 pm | Ditulis dalam M Y F R I E N D S W O R D, R E N U N G A N, Uneg-uneg | 2 Komentar

Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya manusia biasa, biasa dalam pribadi, prestasi dan karisma. Aku sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan tidak menciptakan aku seperti orang-orang yang cemerlang itu. Hidup mereka benar-benar bagaikan di surga, walaupun hanya di dunia. Mereka hartawan, rupawan dan ilmuwan. Ah, aku memang harus sering berkata “Hidupku memang malang”.

******

Aku sedih dan kecewa, mengapa tiba-tiba perusahaan yang telah lama kurintis ambruk dengan mudah. Lini demi lini di dalam perusahaan ini lemah dan hancur dalam hitungan hari saja, seolah-olah meniadakan usaha banting tulangku selama bertahun-tahun. Apakah aku harus mulai dari nol lagi, padahal aku sudah akan mencapai garis seribu. Oh Tuhan, kenapa hidupku begini.

******

Aku tidak tahu menahu, tiba-tiba saja Tuhan telah memberikan banyak anugerah kepadaku. Namaku terkenal di tengah-tengah masyarakat karena wibawa dan prestasiku. Hidupku berkecukupan, bahkan berlebihan. Karirku di dunia kerja semakin menanjak seiring dengan berkembang pesatnya lahan-lahan bisnis dan investasiku. Aku merasakan bahwa semua yang kudapat adalah hidup yang sebenarnya, aku akan mempertahankannya dengan segala daya upaya. Terima kasih Tuhan.

******

Siang ini, aku dibikin jijik oleh gelandangan-gelandangan cilik yang biasa mankal di jalan Slamet Riyadi. Dengan wajah kotor dan pakaian lusuh, mereka berusaha mendekati mobil mewahku sewaktu berhenti di traffic light. Sebenarnya aku merasa iba dan kasihan terhadap mereka, tetapi sayang, aku juga tidak tahan melihat wajah-wajah kotor mereka. “Pak, Cepat jalan!” Perintahku kepada Sopir tanpa menyadari lampu merah masih menyala. Aku memang masih ingin segera berlalu dari gelandang-gelandang cilik itu. “Maaf, pak. Lampunya masih merah” jawab sopir membuatku sadar. Ah, anak-anak itu kini telah berada di depan batang hidungku, mereka pun mulai bernyanyi dengan nada-nada sumbang yang tidak enak didengar. Dengan terpaksa, aku ulurkan uang lima ribuan kepada mereka. Spontan, mereka saling berebut, saling dorong, dan saling pukul. Tapi, pemandangan di depanku itu hilang seiring berjalannya mobil. Dalam perjalanan, aku membatin sendiri: “Oh Tuhan… Kenapa Engkau ciptakan anak-anak malang ini?”

******

Tuhan, lagi-lagi mereka menyebutnya. Orang-orang yang ingin memperbaiki citra agama mereka di mata masyarakat London. Mereka menyebut Allah sebagai tuhan dalam agama yang bernama Islam.

Berpuluh-puluh brosur dan pamflet dibagikan secara gratis kepada semua pejalan kaki. Isinya apalagi, kalau bukan berkaitan dengan klarifikasi atas nama agama Islam terhadap tragedi bom di salah satu stasiun kota tempo hari.

Aku sebenarnya acuh tak acuh. Tapi, di dalam hati kecilku terbersit rasa penasaran. Aku mengambil satu brosur dan satu pamflet. Aku ingin membacanya kalau nanti tiba di rumah. Dan isinya seperti apa yang aku duga mengutuk tragedi bom dan mengatakan bahwa Islam tidak membernarkan demikian itu…

Akhir Tahun 2006

Komentar saya:

Ini adalah sebuah refleksi dari seorang teman yang memanggil dirinya mbah boy.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. refleksi yang mendalam…tapi nampaknya mbah boy begitu gulana…


    Terima Kasih bunda.. memang teman saya ini waktu itu sedang gundah gulana..
    salah satu sebabnya, karena distop tidak boleh jajan..🙂

  2. Keluh kesahmu kayak orang pingin mati aja, apa dah bosen idup wakakakaka forum PECII


    Kok aku sih… ini kan cuma tulisan si mbah boy yang diupload


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: