Pilih EQ atau IQ

Desember 29, 2008 pukul 11:20 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N, Triks dan Intriks, Uneg-uneg | Tinggalkan komentar

Mana yang kira-kira anda pilih, IQ tinggi tapi EQ pas-pasan menjurus rendah? Atau sebaliknya, EQ tinggi tetapi IQ biasa-biasa aja bahkan menjurus jongkok?

Kalo maunya orang sih, IQ tinggi kayak bapak Habibie, tetapi juga EQ yang baik kayak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maunya begitu. Hanya, apa daya hendak memeluk gunung tapi tangan tak sampai (kalo tidak salah begini ya peribahasanya. Soalnya pengetahuan saya tentang peribahasa sudah agak karatan). Pada zaman modern ini, dapat disaksikan berbagai macam sekolah terpadu bermunculan; dengan slogan hendak mencetak generasi berprestasi yang memiliki akhlak mulia.

Sempat terlintas pertanyaan: Andaisaja manusia ini disuruh memilih salah satu antara IQ tinggi tapi EQ pas-pasan atau EQ tinggi tapi IQ pas-pasan, mana yang kira-kira akan dipilih?

Pilih yang pertama, bisa-bisa jadi penjahat. Kalo pilih yang kedua, disoraki sebagai orang bodoh. Ah … pilih atau saja. Kan di tengah-tengah. (he3x).

Kalau aku pasti memilih yang kedua. EQ tinggi walaupun IQ pas-pasan. Karena, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan EQ (atau akhlak) itu sesuatu yang tidak bisa didapat secara instan. Kecerdasan dapat dimanipulasi; hanya dengan mengondisikan diri kita dalam suasana suatu disiplin ilmu, maka kita dapat dicetak seorang ilmuwan di bidang ilmu tersebut. Berbeda dengan akhlak; seketat apapun kita mengondisikan keadaan kita, akhlak kita yang asli tetap akan muncul.

Kalau dilihat dari kacamata agama –terutama agama Islam–, kita dapatkan bahwa agama-agama tersebut membawakan perbaikan akhlak. Bukan perbaikan kecerdasan. Setiap agama menganjurkan pengikutnya untuk memaafkan, berbuat baik, bla..bla…bla….

Coba anda amati sekali lagi orang-orang di sekitar anda, di Indonesia kita tercinta. Banyak contoh orang dengan IQ tinggi tanpa EQ yang memadai. Dan hasilnya; RUSAK. Ngomong-ngomong soal IQ, saya teringat dengan penuturan seorang ustadz saya yang sekarang sedang meneruskan studinya di Ontario, Canada.

Beliau bercerita bahwa di Canada, seorang anak dari PlayGroup sampai ke SD kelas 2 itu diajarkan tentang akhlak, tanpa diajarkan pelajaran yang menyangkut aspek kognitifnya. Mereka hanya diajarkan bagaimana berbuat jujur dan tidak berbohong dst. Bahkan di TK, mereka belum diajari baca dan menulis.

Jauh sekali dengan apa yang terjadi di Indonesia. Di sini, aspek kognitif menjadi dambaan setiap orang tua, sehingga lembaga sekolah pun berlomba-lomba untuk membuat kurikulum berbasis kompetisi yang mengedepankan aspek kognitif. Hasilnya kita melihat banyak anak-anak terampas masa bermain-main mereka, yang kemudian mereka lampiaskan ketika mereka sudah mendapatkan jabatan, atau pekerjaan. Sungguh Ironis.

Tidak mengherankan bukan, apabila Indonesia kita ini selalu juara Olimpiade sains, entah itu Kimia, Fisika, dan Matematika. Dan tidak mengherankan jika negeri ini tambah rusak.

Eh…kok melantur sih, sampai di mana-mana. Sudah dapat gambaran tentang EQ tinggi tapi IQ pas-pasan dan IQ tinggi tapi EQ rendah…?

So, bagaimana dengan anda ………..

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: