Cerdas: Antara Kenyataan, Angan-angan dan Kebutuhan

Desember 17, 2008 pukul 6:53 am | Ditulis dalam R E N U N G A N | Tinggalkan komentar

Pendidikan Sekolah Belum Menyenangkan

Sekolah belum menjadi sarana pendidikan yang menyenangkan dan memberikan pengetahuan yang bermakna bagi peserta didik. Saat ini, sekolah terlalu banyak membebani siswa dengan pengetahuan yang banyak, namun tidak bermakna.

Tidak heran kalau pengetahuan yang diberikan itu tidak bisa dijadikan topangan keterampilan yang berkembang secara dinamis. Akibatnya, jangankan untuk bersaing dengan tenaga kerja asing, peserta didik kita bahkan tidak mampu untuk membantu dirinya agar mandiri.

Hal ini disampaikan anggota Komisi VI Mochtar Buchori dalam Rapat Kerja antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar di Jakarta, Kamis (27/2).

Dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VI Prof Dr Anwar Arifin, Mochtar Buchori menyebut tiga aspek yang harus dipenuhi oleh institusi sekolah. Ketiga aspek itu adalah pengetahuan, skill, dan membentuk karakter. Aspek pengetahuan yang dikembangkan seharusnya bisa menopang kebutuhan skill yang terus berubah.

“Apa yang dilakukan sekolah hanyalah memberikan kemampuan untuk menghafal, dan bukan untuk berpikir secara kreatif. Hasilnya, pendidikan kita tidak punya makna,” ujarnya.

Usaha perbaikan pendidikan, menurut Mochtar Buchori, sebenarnya harus dilakukan dengan memperbaiki pendidikan guru. Sayangnya, lembaga pendidikan guru seperti Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), yang seharusnya bisa lebih fokus dalam mencetak guru, sudah berubah menjadi universitas. Akibatnya, pendidikan di sekolah guru telah direduksi menjadi pendidikan administrasi sekolah, dan lulusan IKIP banyak yang puas dengan menjadi manajer sekolah.

“Selama guru-gurunya dididik dengan desain seperti ini, tidak akan keluar tenaga pendidikan yang mampu melahirkan meaningfull knowledge,” ujarnya.

Tidak bergerak

Malik Fadjar mengakui, konsep pendidikan nasional sekarang masih perlu dikembangkan agar wujud pendidikan lebih jelas arahnya. Selain itu, dunia pendidikan nasional masih membutuhkan kerja keras yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Proses perbaikannya membutuhkan kerja sama seluruh stakeholder pendidikan dan komitmen pada pendidikan.

“Tanpa komitmen yang tinggi, dunia pendidikan nasional tidak akan pernah bergerak dari kondisi saat ini,” ujarnya.

Menurut Malik, dunia pendidikan membutuhkan perubahan pola pikir, yakni dari sekadar mengikuti petunjuk mejadi lebih mandiri dan bisa berpikir secara kreatif. Dalam desain manajemen pendidikan berbasis sekolah, sebenarnya sudah memberikan peluang pada pengelola sekolah untuk memberikan apa yang dibutuhkan siswa secara cepat.

“Bahkan, dalam desain kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sudah memberikan pendidikan basic humanities yang dibutuhkan siswa untuk bisa belajar, seperti bahasa, dan pengetahuan dasar lainnya, termasuk juga agama. Pengetahuan ini berguna untuk mendukung kemandirian anak didik,” ujarnya.

Malik menilai, dunia pendidikan harus berani melakukan banyak terobosan untuk memperbaiki mutu. Di perguruan tinggi, misalnya,Universitas Indonesia sudah melangkah untuk membuka kelas internasional di Fakultas Kedokteran, Psikologi, dan Teknik.

Yang lainnya.

Cerdas Saja tidak Cukup

Sekolah harusnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak sehingga otaknya makin terangsang untuk bisa berkembang dengan baik.

Sejumlah penelitian menemukan fakta bahwa IQ hanya memberikan kontribusi 20 persen dari keberhasilan seorang manusia. Adapun 80 persen lainnya lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ). Kecerdasan otak atau IQ seorang anak ternyata tidak banyak menjamin keberhasilan masa depannya.

”Dalam hal ini EQ ditunjukkan dengan karakter atau akhlak seorang anak. Tapi membentuk anak dengan karakter baik tak cukup dengan memasukkan anak dalam pengajian, sekolah minggu, dan belajar moral Pancasila maupun agama di sekolah,” ujar Ketua Forum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Indonesia, Ratna Megawangi, di sela ‘Semiloka Nasional Pendidikan Anak Usia Dini’ di Kampus IPB, pekan lalu.

Menurut Ratna, anak yang belajar agama dan moral di sekolah selama ini lebih difokuskan pada kemampuan akademik seperti menghafal 25 nama nabi, rukun Islam, dan sebagainya. Ini hanya menyentuh aspek kognitif saja tetapi tidak melibatkan dimensi efektif atau emosi dan spiritual anak,” ujar Ratna di sela-sela Semiloka Nasional Pendidikan Anak Usia Dini di IPB belum lama ini.

Bagi Ratna, membangun karakter anak hanya bisa dilakukan jika lingkungan belajar di sekolah dan juga di rumah sangat kondusif. Artinya, sekolah tidak sekadar menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga menjadi tempat untuk bersenang- senang bagi anak. ”Di mana anak merasa nyaman dan senang sehingga proses belajar di sekolah menjadi efektif,” jelasnya.

Masalahnya, kata Ratna, saat ini banyak sekolah telah berubah menjadi tempat yang sangat ditakuti oleh anak-anak. Kelas tidak nyaman, guru galak, beban pelajaran yang begitu banyak, pekerjaan rumah banyak, teman- teman saling memukul dan meledek, serta guru yang tak pernah tersenyum. ”Bahkan sering menghukum,” Ratna memberi ilustrasi.

Kondisi seperti itu, ujar Ratna, akan membuat batang otak (otak reptil) sangat aktif dan bagian korteks menjadi tidak aktif. Anak menjadi stress yang mengakibatkan otak reptilnya akan terangsang dan denyut jantung menjadi tidak stabil. Jika ini berlangsung terus menerus, maka yang kemudian muncul adalah anak menjadi agresif, ketakutan, bertahan diri, dan sifat negatif lainnya. ”Jangan heran jika anak menjadi gemar tawuran,” tegasnya.

Lebih jauh Ratna menyatakan, jika ini terjadi, maka itu berarti sekolah telah menjadi tempat belajar yang tidak kondusif untuk membentuk karakter anak. ”Padahal mestinya sekolah menjadi tempat yang menyenangkan, agar otak anak terangsang untuk bisa berkembang baik,” jelasnya.

Untuk membuat sekolah menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi anak, terutama anak usia dini, Ratna menandang perlunya guru mempunyai pengetahuan dan ketrampilan cara mengajar. Misalnya, untuk anak-anak TK, belajar sambil bermain adalah kunci pokok agar proses belajar yang dilalui anak-anak berjalan dengan suasana yang menyenangkan.

Ratna juga merekomendasikan model pembelajaran holistik berbasis karakter. ”Caranya, berbagai stimulan diajarkan berulang sehingga terbangun karakter yang baik pada anak,” ujarnya.

Metode ini, kata Ratna, meliputi knowing the good (merangsang anak berpikir yang baik-baik saja), reasoning the good (anak tahu alasan berbuat baik), feeling the good (membangun perasan anak akan kebaikan), dan acting the good (anak mempraktikkan kebaikan atau alasan berbuat baik). ”Jika anak terbiasa melakukan hal itu, lama kelamaan akan terbentuk karakter yang baik pada anak,” jelasnya.

Sudah baca korannya. Iya sih, ada benernya juga mbak Ratna ini. Bahkan pada kalimat ”Bahkan sering menghukum,” ini aku agak grek juga. Produk zamankah? Muncul dari jiwa yang sakitkah? Stress? Atau apakah?

Aku pernah dapet sms dari seorang teman. Dia termasuk anggota tim penguji sebuah pesantren di sebuah kota ‘sumbu pendek’. Begini,

Cerdas intelektual dan cerdas emosional. IQ dan EQ…. aku gak ngerti-ngerti amat sih dengan makhluk berdua ini. Dulu waktu aku masih sekolah gak ada deh nama-nama ini. Aku tanya bapakku, beliau juga gak begitu ngeh dengan nama itu. Beberapa orang tua yang cukup akrab denganku dan pernah sekolah di SR jaman londo dulu juga bilang gak kenal. Belum lahir kali ya…

Tapi yang pasti ku tahu, kakek-kakek dan nenek-nenek ini bukan makhluk bodoh. Bukan makhluk tak berperasaan. Bahkan dalam banyak hal mereka menjadi guru-guruku dalam disiplin ilmu yang mereka sandang dan tunjukkan. Bukan dengan kata-kata, namun lebih bermakna. Dalam keseharian mereka. Dalam menjalani hidup ini. Dalam mengemban amanat Allah. Dalam memimpin keluarga. Dalam mendidik anak-anak mereka.

Bahkan aku banyak belajar hal kesederhaan dari mereka. Sederhana dalam berpikir dan bertindak. Gak mbulet-mbulet sampe ngelonjak. Jadi ingat para sahabat di sekeliling Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka orang-orang dengan pakaian kesederhaan. Dalam mengikuti Nabi gak banyak soalan. Gak macem-macem. Pokoke Islam titik. Namun faktanya, mereka adalah makhluk-makhluk Allah yang penuh perasaan. Penuh kepedulian. Bukan hanya kepada sesama manusia, bahkan hewan dan tumbuhan pun demikian (andai kurma bisa ngomong….). Tanpa kenal apa namanya, para sahabat Nabi ini adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional. Bahkan sebagian mereka sudah diberitahukan cum laude dimasa hidupnya dengan gelar AJ (ahlul jannah).

Trus yang sekarang. Ketika Nabi sudah tidak bersama kita secara dlohir. Para sahabat juga sudah berkalang tanah. Yang ada tinggal sisa-sisa peradaban. Baik sekolah ngeri, luar negeri (baca: swasta), pesantren, maupun diklusemas (apaan sih?) kok makin mirip aja.

Curhat lagi aja.

Sekolah maupun pesantren menurut mataku yang kadang ngantuk ini, adalah lembaga pendidikan formal (eh pesantren ada yang gak formal ding) yang secara sistematis ngelakuin program bimbingan, pengajaran dan latihan buat ngebantu murid untuk ngembangin potensinya.

Potensi apaan? Ya semuanya (yang baik-baik lho), ya aspek moral-spritual, kognitif, emosional maupun sosial. Sebenarnya sih semuanya masuk dalam konteks keagamaan sih menurutku. Cuman biar keren dibagi-bagi aja. Lihat lagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat deh. Gak ada bahasa-bahasa keren gitu.

Sampai di sini, sekolah juga pesantren jadilah faktor penentu bagi perkembangan kepribadian murid dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku buat nganterin si manusia hijau ini ke alam kedewasaan. Lagi…. DEWASA.

Tentunya banyak modal deh yang mesti dikeluarin. Selain duit lho ya, di sana ada modal kekeluargaan, kesejajaran, kasih sayang, dan kebebasan bertanggung jawab. Yups, semua harus bisa dipertanggungjawabkan, baik kepada manusia maupun kepada Rabb, Allah Sang Pencipta.

Namun, jarum berputar, waktu berjalan, peradaban berganti. Suasana hati pun sering berubah. Hubungan mendewasakan ikut berganti jadi konsep menggurui dan digurui. Manusia hijau yang masih muda tak lebih dianggap sebagai tong kosong tak berperasaan dan tak ada potensi yang bisa diisi sesuka hati oleh pengisinya.

Pendidikan berubah menjadi sekedar pengajaran. Mendidik turun kadar jadi mengajar. Gak ada lagi sung tulodho. Teladan yang baik sudah menjadi sekedar slogan dan guyonan.

Hari ini, di negeri ini, pendidikan (sekolah dan pesantren) sudah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi murid. Kekeluargaan, kasih sayang, kebebasan mengungkapkan diri siswa, sedikit demi sedikit mulai ngilang dari peredaran. Iya sih, banyak faktor yang bisa dicari dan dikumpulin disini. Tapi paling gak, mestinya ada yang jadi tokohnya nih. Siapa dong sang tokoh itu?

Ketika guru dengan segala otoritasnya menjadi galak dan memandang murid sebagai objek. Gampang menghukum. Bahkan hukumannya gak nyasar. Pokoke hukuman biar murid kapok gak ngulangin ‘kesalahan’. Under-attack nih si murid….

Ketika guru tidak bisa memberikan kepercayaan kepada murid. Guru ‘mencurigai’ murid. Gak ada pendelegasian tugas buat sekedar melatih murid menjadi lebih dewasa. Tentunya dalam batas yang bisa dipertanggungjawabkan. Murid jadi under-pressure lah. Depresi.

Ketika guru memandang murid sebagai kertas kosong lalu dicorat-coret dengan seenaknya. Atau tong kosong yang bisa diisi apa saja. Balas dendam nih, dulu sudah dicoret sama gurunya guru, sekarang giliran yang coret-coret sama muridnya.

Ketika proses pembelajaran dari awal hingga akhir dikuasai sepenuhnya oleh guru. Murid jadi hilang gairah ekspresi diri. Kehilangan jati diri. Begitu lulus, njepat dianya (emang sandal jepit apa). Bisa jadi, dia pinter tapi gak kreatif, atau malah jahat. Hiii..penjahat yang lihai.

Lingkungan fisik sekolah maupun pesantren, baik di dalam kelas maupun lingkungan luar kelas menjadi tempat yang gak enjoy bagi murid, kaku, apalagi penataan kelas yang terlihat kumuh dan monoton bikin murid gak betah.

Peraturan yang ketat. Maksudnya peraturan yang memiliki aturan detail yang menuntut banyak kepada murid sampe mereka pengin lari dari kenyataan.

Itu tadi para tokoh faktor kita kali ini. Masih ada sih yang lain, barangkali. Tapi yang jelas, para tokoh ini bikin murid gak enjoy di sekolah maupun pesantren. Murid merasa sekolah dan pesantren bukan lagi tempat yang menyenangkan untuk belajar. Murid bakalan bolos kelas sebagai tindakan protes mereka terhadap perilaku guru, proses pembelajaran, disiplin yang ketat maupun lingkungan sekolah atau pesantren yang kurang bersahabat. Bahkan bukan lagi bolos kelas, kalau boarding school ya run away aja. Lariiii….. kata sebagian orang, minggat!

Lalu, ini bagian sialnya. Murid mencari tempat di luaran yang ‘cukup aman’ bagi mereka buat mengekspresikan diri. Bebas tanpa tekanan. Tak ada otoritas yang menekan. Lalu muncul komunitas atau geng remaja. Berkumpul di sana sini, ke mall, cafe, duduk-duduk di jalanan, di prapatan, di jembatan, atau segala tempat yang gak ada bayang-bayang ‘guru’.

Sesuai dengan hukum perkembangan individu, ketika mereka merasa aman, mereka cenderung berekspresi diri lewat jalur-jalur negatif macem minuman keras, pake narkoba, kelahi, juga kriminil lain macem ngebajak bus buat senang-senang. Lha wong aku pernah naik bus jurusan Pasar Tanah Abang – Bekasi (dulu waktu masih di Jakarta), eh baru beberapa ratus meter keluar terminal Tanah Abang, bus dibajak oleh anak-anak SMP, buat nganterin mereka ‘beli dagangan’ sekolah laen. Sebagian mereka bawa senjata tajam juga. Hhhh…. begitulah, sesungguhnya nafs itu (hawa nafsu) mengarahkan manusia kepada perbuatan buruk.

Sekarang gak lihat koran dulu. Tapi mendongakkan kepala. Lihat yang di atas. Gak usah tinggi-tinggi. Gimana pemerintah dan lembaga-lembaga terkait sampai para kepsek dan guru-guru sendiri menyoal masalah pendidikan ini?

Pemerintah kita rupanya masih menyibukkan dengan masalah konsep kurikulum atau sistem pendidikan bahwa pendidikan itu harus begini dan begitu. Ya, sekedar konsep……konsep. Mereka jarang mempermasalahkan hal-hal teknis dilingkungan fisik sekolah atau pesantren, proses pembelajaran maupun cara pendekatan guru terhadap murid. Gak ada gerakan turun bawah dalam dunia pendidikan. Para atasan hanyalah para ‘bapak asal senang’. Yang jadi bawahan adalah sekedar kelompok ‘pemulung muka’. Paling gak yang kutahu begitu. Sorry kalau salah mata. Yang pesantren nampaknya gak jauh beda.

Menurut temanku yang seorang guru di sebuah SMK. Mereka para guru sering ‘dipaksa’ dengan program-program ‘atasan’ sehingga bukannya guru sibuk ngasuh murid, tapi guru jadi sibuk ngeladenin atasan, begitu.

Blunder deh…

Yang terlihat akhirnya adalah, para murid serasa jadi kelinci percobaan bagi konsep-konsep setengah matang ini. Buku-buku pelajaran yang silih berganti menjadikan murid bahkan orang tua murid jadi punya pekerjaan tambahan. Ada aroma bisnis yang menyengat. Huwaaa…..ada mafia juga rupanya?! Apalagi bayaran buat sekolah sekarang tinggi-tinggi, gak sinkron sama kualitas. Cape deh…

Trus now what?!

Solusi dong…..

Paling gak ya ini dulu. Sikap guru. Konon dalam kurikulum baru yang dikenal dengan ‘Kurikulum Berbasis Kompetensi’ ada tawaran bahwa guru berperan sebagai desainer yang kreatif. Dalam tahap pelaksanaannya guru berperan sebagai fasilitator, dinamisator dan motivator. Dalam tahap evaluasi guru berperan untuk memberikan umpan balik. Jadi inget slogan ‘tutwuri handayani’… tapi ya itu tadi , jangan cuman semboyan.

Jadinya gak ada lagi guru yang menggurui, gak ada guru yang otoriter atau galak. Yang ada adalah tindakan pembelajaran yang berlandaskan kekeluargaan, kesejajaran, kasih sayang dan menciptakan kebebasan bertanggung jawab bagi murid. Guru dan murid sejajar sebagai manusia yang saling butuh tanpa harus ada otoritas di salah satu pihak. Selain itu, dalam proses pembelajaran memandang murid secara merata, artinya tidak ada murid yang lebih dianakemaskan. Gak ada pilih kasih. Murid cari ilmu, guru cari pahala (plus bonus sekedarnya)

Lalu, cara pandang guru terhadap murid. Gak lagi jadi kertas kosong, tapi memandang murid sebagai manusia yang memiliki potensi, punya kompetensi-kompetensi yang perlu didorong buat mengembangkan dirinya. Bisa saja dengan cara dramatisasi pembelajaran, diskusi, debat dan permainan-permainan yang relefan dengan pokok bahasan atau materi pelajaran. Biar mendalam gitu loh.

Trus, lingkungan fisik sekolah, baik di dalam kelas maupun lingkungan sekolah. Perlu desain dengan pendekatan natural. Pake konsep kerindangan misalnya. Sukur-sukur tanami tumbuhan langka atau yang lagi ngetrend gitu. Juga konsep penataan eksterior yang turut mengedapankan ‘ajaran’ kebersihan dan kerapihan lingkungan. Juga gerakan anti kumuh buat ruang kelas, anti panas dan anti monoton. Pasang AC juga kalau perlu. Jangan cuman ruang guru atau kepsek aja yang pake AC, murid juga perlu tuh. Yang belajar emang siapa hayo! Biar gak monoton, pake kursi yang ada rodanya, plus sandaran, kadang pake tikar biar bisa lesehan, atau kadang belajarnya dibawah rindang pohon langka, asyik juga euy…

Masih ada lagi, masalah peraturan sekolah atau qonun pesantren. Gak usah terlalu detail napa. Yang global saja, tapi murid diberi kepercayaan berdasar ilmu dan rasa tanggung jawab. Meski pada dasarnya aturan itu bersifat memaksa, biarlah dia seperti apa adanya, gak usah saklek ngikut gaya gurunya. Disiplin waktu misalnya, cukup hanya dengan memberitahu “kamu lebih baik datang tepat waktu supaya teman-temanmu tidak terganggu dan juga kamu tidak ketinggalan pelajaran.” Lembut kan?

Dengan konsep toleransi, murid akan belajar menahan diri untuk tidak menyengaja melanggar aturan baku.

Sebagaimana hakikat sekolah adalah mengantarkan manusia hijau nan muda ke alam kedewasaan, maka dianya ada proses, butuh tenaga dan biaya, juga kesadaran penuh bagi pencapaian tujuan.

Dengan demikian benar-benar terbentuklah proses pendewasaan manusia hijau nan muda dan mempertemukan mereka dengan kodrat sejatinya kemanusiaan. Seorang hamba yang tahu diri terhadap Rabbnya dan mampu menjaga diri terhadap sekalian makhlukNya.

Di CePa :

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: