Renungan Iedul Adl-ha

Desember 8, 2008 pukul 11:27 pm | Ditulis dalam R E N U N G A N | Tinggalkan komentar

‘Iedul Adl-ha baru saja kita lewati; tetapi, adakah kesadaran dari kita, bahwa yang kita lakukan itu merupakan suatu contoh yang dilakukan pendahulu kita Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu was sallam?!

Nabi Ibrahim, yang millah (agama) beliau, merupakan millah yang selalu diperjuangkan oleh para nabi yang diutus oleh Allah setelah beliau, sehingga beliau memperoleh gelar bapak seluruh nabi.

Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa beliau merupakan contoh suri tauladan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, sebagaimana Firman Allah di dalam surat Al-Mumtahanah (60):4

“Sungguh di dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya itu ada suri tauladan bagi kalian (wahai orang-orang yang beriman)…”

Lalu, suri tauladan apakah yang beliau (beserta orang-orang yang bersamanya) contohkan untuk kita?

Sejak nabi Ibrahim memenuhi seruan Allah untuk menyerahkan diri secara total kepada Nya, sebagaimana Allah ceritakan di dalam surat Al-Baqarah (2):131, nabi Ibrahim selalu menepati apa yang telah beliau ikrarkan. Beliau menyerahkan diri, harta, dan keluarga beliau untuk berjuang di jalan Allah. Dan Allah pun memberikan ujian kepada beliau untuk membuktikan apakah beliau tetap memegang apa yang telah beliau ikrarkan tersebut

Tentu saja, perjuangan ini dimulai dengan mendidik keluarga beliau sehingga keluarga beliau merupakan contoh keluarga idaman setiap keluarga muslim.

Hasil didikan beliau sungguh luar biasa. Lihatlah Ibunda Sarah, isteri Nabi Ibrahim yang pertama.

Bagaimana Ibunda Sarah senantiasa mengiringi perjalanan dakwah nabi Ibrahim dengan segenap penyerahan diri; bahkan, sampai Ibunda Sarah pun korbankan perasaannya dengan menyuruh nabi Ibrahim untuk menikahi Ibunda Hajar, budak milik Ibunda Sarah yang telah dimerdekakan, karena Ibunda Sarah sampai saat itu belum dikaruniai seorang keturunan pun. Pengorbanan Ibunda Sarah dengan perasaannya semakin bertambah ketika Ibunda Hajar ternyata bisa memberikan keturunan bagi nabi Ibrahim ‘alaihimush shalatu was salam; sesuatu yang selalu diidam-idamkan oleh setiap suami-isteri.

Nabi Ibrahim sendiri pun diuji untuk pertama kalinya dalam masalah keluarga; ujian dari Allah untuk membuktikan apakah nabi Ibrahim memegang teguh apa yang telah beliau ikrarkan bahwa beliau menyerahkan diri beliau secara total kepada Allah ataukah beliau akan bergeser dari apa yang telah beliau ikrarkan.

Nabi Ibrahim diuji; bagaimana seorang bapak yang telah lama mengharapkan hadirnya seorang anak yang akan menjadi penerus perjuangannya, yang kemudian keinginannya dikabulkan oleh Allah. Betapa senang hatinya. Akan tetapi, hanya dalam hitungan hari; Allah memerintahkan sang bapak, nabi Ibrahim, agar menempatkan Ibunda Hajar beserta sang anak yang dinanti-nantikan, nabi Isma’il, pada suatu padang pasir yang tiada pepohonan maupun mata air. Gersang, panas dan kering kerontang. Nabi Ibrahim hanya memberi bekal makanan dan minuman secukupnya. Tatkala nabi Ibrahim sudah hendak melakukan perjalanan pulang seorang diri; Ibunda Hajar bertanya kepada beliau, “Wahai suamiku, apakah engkau menaruhkan kami di padang pasir yang tandus ini karena perintah Allah ?! “ Nabi Ibrahim menjawab: “Ya, Allah lah yang memerintahkan saya untuk meninggalkan kalian di sini.” Ibunda Hajar, yang telah dididik oleh nabi Ibrahim, dengan yakin mengatakan: “Kalau benar begitu, sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan kami “. Subhanallah, keyakinan yang amat kuat terhadap Allah seperti ini tidak akan didapatkan dengan cara instan. Keyakinan seperti ini, hanya akan didapatkan dari pendidikan yang intesif dan berlanjut.

Ujian ini memperlihatkan dua sisi yang saling berkaitan. Keterkaitan dalam ketundukan kepada perintah Allah tanpa banyak bertanya dan memikirkan alasan logis yang melatarbelakangi perintah ini. Nabi Ibrahim adalah seorang yang pintar. Beliau telah memikirkan tentang keberadaan tuhan. Beliau melihat Matahari, bulan, dan bintang, kemudian memikirkan apakah mereka patut untuk disembah; dan ternyata, beliau bisa memberikan alasan kenapa mereka tidak patut disembah. Hal ini sebagaimana Allah abadikan dalam surat Al-An’am (6):76-78.

Akan tetapi, tatkala nabi Ibrahim diperintahkan untuk menempatkan isteri beliau beserta anak yang telah lama diharap-harapkan di suatu padang pasir, beliau hanya tunduk dan patuh; menyingkirkan perasaan beliau sebagai seorang bapak yang baru saja diberi anak. Beliau tunduk tanpa memprotes sama sekali. Saya mendengar dan saya mentaati.

Di lain pihak, Ibunda Hajar merupakan gambaran seorang wanita, isteri, yang patuh kepada Allah dan suaminya. Setelah mengetahui bahwa dirinya ditempatkan di tempat yang tiada naung-naungan dengan perbekalan yang sangat tidak mencukupi; Ibunda Hajar pun mengutarakan keyakinan dirinya bahwa orang yang tunduk patuh kepada perintah Allah, pasti tidak akan disia-siakan oleh Allah. Allah pasti akan menolongnya. Dan Allah pun menepati janji Nya untuk menolong hamba-hambanya yang taat dan patuh. Tatkala perbekalan sudah habis, sehingga air susu pun tidak dapat dikeluarkan oleh Ibunda Hajar, yang menyebabkan nabi Ismail menangis karena rasa dahaga; Ibunda Hajar menyari air sehingga beliau berlari-lari dari satu tempat menuju tempat lain sebanyak tujuh kali (yang kemudian dijadikan sebagai salah satu syi’ar haji yang bernama SA’I) dan Ibunda Hajar tidak mendapatkan air sama sekali. Di tengah kegalauan Ibunda Hajar, Allah menunjukkan tanda kebesarannya lewat hentakan kaki nabi Ismail yang sedang menangis. Lewat hentakan kaki inilah, muncul sumber mata air yang tidak pernah habis sampai sekarang walaupun diambil berulang-ulang kali oleh hampir separuh penduduk dunia setiap tahunnya, yang dinamakan air zamzam. Dapatkah anda membayangkan betapa Allah Maha Kuasa menjadikan air zamzam, sejak munculnya pada masa nabi Ismail hingga tahun 2008 masehi ini. Sudah berapa ratus abad yang terlalui, dan sumber ini tidak pernah habis?!.

Selesaikah ujian Allah atas keluarga yang dibarakahi ini?! (sampai nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam meminta shalawat dan barakah bagi dirinya dan keluarga beliau seperti shalawat dan barakah yang Allah telah limpahkan kepada nabi Ibrahim dan keluarganya contoh bacaan shalawat: Ya Allah, limpahkan shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad; sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah barakah atas Muhammad dan keluarga Muhammad; sebagaimana Engkau telah limpahkan barakah atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim.)

Jawabannya belum !. Ujian Allah terhadap Nabi Ibrahim masih berlanjut.

Setelah lewat beberapa tahun semenjak nabi Ibrahim meninggalkan Ibunda Hajar dan nabi Ismail di padang pasir yang tandus (yang kelak dinamakan Makkah Al-Mukarramah), beliau pun berkeinginan untuk menengok keadaan Isteri dan anaknya tersebut. Dengan perasan rindu yang membuncah akhirnya beliau sampai ke padang pasir yang sekarang sudah berubah menjadi sebuah kota. Setelah beberapa hari berkumpul dengan isteri dan anak beliau yang sudah tamyiz, sudah bisa diajak berdialog, Allah menguji nabi Ibrahim dengan perintah untuk menyembelih nabi Ismail. Nabi Ibrahim segera memanggil putranya dan menyeritakan perintah Allah tersebut. Hal ini sebagaimana Allah Firmankan di dalam Al-Qur’an, surat Ash-Shaffat (37):102 : “Wahai anakku, Aku telah mendapatkan wahyu berupa mimpi agar aku menyembelihmu; apa pendapatmu?” Nabi Ismail yang telah dididik oleh ibunya, seorang wanita yang shalehah yang mendapatkan pengajaran dari nabi Ibrahim, mendorong keyakinan bapaknya dengan jawaban yang penuh kepastian: “Wahai bapakku! Lakukanlah apa yang bapak diperintah untuk melakukannya.Insya Allah, bapak akan mendapatiku termasuk dari golongan orang-orang yang sabar.” Jawaban dari seorang pemuda yang telah dididik dengan pendidikan Islam. Pemuda yang siap mengorbankan diri untuk kepentingan millah Islam.

Inilah gambaran keluarga yang baik menurut Allah. Bagaimana nabi Ibrahim, sebagai seorang suami, mendidik isteri beliau – baik itu Ibunda Sarah maupun Ibunda Hajar – di tengah kesibukan beliau berdakwah, mengajak orang-orang di sekitarnya untuk menyembah Allah. Suatu pekerjaan yang telah nabi Ibrahim lakukan semenjak remaja.

Nabi Ibrahim berhasil menyetak isteri yang shalehah, yang mampu menjaga harta dan anaknya menurut apa yang diperintahkan oleh Allah, ketika nabi Ibrahim sedang pergi untuk urusan dakwah. Ibunda Hajar merupakan bukti hasil didikan beliau. Bagaimana Ibunda Hajar yang telah berpisah dari nabi Ibrahim selama bertahun-tahun mampu untuk mendidik anak suaminya dengan baik, sehingga menjadi anak yang sholeh?! Anak yang mengerti kewajibannya kepada Allah, kepada orangtuanya, dan kepada masyarakat di sekitarnya.

Satu pelajaran penting dari keluarga nabi Ibrahim alaihish shalatu was salam, bahwa orang tua yang baik akan melahirkan generasi penerus yang baik. Seorang laki-laki yang baik menikah dengan wanita yang baik, maka akan melahirkan anak yang baik.

Baik di sini ialah baik menurut Allah, baik dari segi agamanya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk memilih menikahi orang yang baik agamanya; bukan yang baik hartanya, kedudukannya, ataupun ketampanan/kecantikannya.

Sejarah telah menyatat bahwa dari pernikahan nabi Ibrahim dengan Ibunda Sarah menurunkan generasi-generasi pilihan yang kebanyakan diangkat oleh Allah sebagai nabi; seperti nabi Ya’kub, nabi Ishaq, nabi Yusuf, nabi Daud, nabi Sulaiman, nabi Musa, hingga nabi Isa. Sedangkan dari pernikahan nabi Ibrahim dengan Ibunda Hajar juga menurunkan keturunan-keturunan pilihan, yang akhirnya menurunkan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Bagi anda yang ingin mempunyai keturunan yang sholeh dan sholehah, anda wajib untuk mencari pasangan yang baik agamanya. Carilah isteri, suami, atau menantu yang baik, niscaya anda akan mendapatkan keturunan yang baik.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: