Takdir itu… (Bag. 2)
Januari 25, 2011 pukul 2:29 pm | Ditulis dalam Cerita, Inspirasi, R E N U N G A N | 2 KomentarYang paling membikin orang (yang kenal agama) patas semangat trus nyalahin takdir dan Tuhan (Na’udzubillah) ya ketika usaha yang telah direntas mati-matian tadi tertabrak takdir.
Ibarat mobil mercy vs kereta api. Hancur berkeping-keping deh.
Seperti halnya dua orang murid, si pintar dan si bodoh. Ketika ujian naik kelas, si bodoh naik dan si pintar tinggal kelas. Kok gitu?
Mungkin saja pas ujian ini, si bodoh dapat pencerahan dan si pintar sedang bad mood. Jadinya ya si bodoh bisa njawab soal dengan benar dan si pintar kebingungan menjawab soal. he..he..he..
Banyak sekali kejadian-kejadian semacam ini di sekitar kita dan hal ini dipastikan akan terjadi berulang dan berulang. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana sikap kita?
Sikap yang harus diambil oleh seorang muslim adalah legowo menerima yang menjadi suratan takdirnya, walaupun rasanya seperti makan empedu.
Legowo? iya… sikap ini merupakan satu-satunya solusi mustajab.
Mau legowo, takdir yang sudah terjadi ndak bakal berubah tapi dapet pahala, atau mau nggersulo (marah-marah dan ndak terima), ya takdirnya kayak gitu juga plus dapat bonus dosa.
Hayo… pilih mana ?
Yang perlu disadari adalah bahwa yang diminta dari kita (manusia) adalah usaha, bukan hasil.
Sekarang… legowo nggak dengan takdir yang kita terima
2 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.


siip…siiip…. tambah dewasa nih…
kalau aku bukan ketabrak takdir Kang, tapi takdir itu menungguku, dan aku yang nabrak-nabrak… parah ya…
Comment by h a b i b— Januari 30, 2011 #
alhamdulillah bang… orang kan harus tumbuh berkembangkan kan?
he..he..he..
waduh kang habib kenapa harus nabrak-nabrak..? apa kang habib ini peserta jamsostek ya…
Comment by muftialy— Januari 30, 2011 #